Rekomendasi untuk Pelayanan Pemuda GKI

Berikut adalah narasi dari materi yang saya presentasikan di Persidangan GKI Majelis Klasis Bandung tentang kepemimpinan kaum muda. Narasi ini kemudian dikutip oleh selisip dan dijadikan artikel di kolom opini. Artikel tersebut berfokus pada lima rekomendasi untuk topik kepemudaan di lingkup GKI khususnya klasis Bandung.

Elkana Tandi, GKI Terusan Pasir Koja; YouTube Channel: Elkana Tandi

Perkenalkan, namanya Elkana Tandi, dia seorang vlogger. Buat rekan-rekan yang berasal dari generasi sebelum milenial, yang mungkin belum familiar dengan istilah vlog (meski mungkin sudah banyak yang tahu), boleh saya perkenalkan vlog itu sebenarnya senada dengan blog, hanya saja bentuk narasinya berupa video. Buat Bapak Ibu dari generasi sebelumnya lagi, saya boleh katakan vlog dan blog itu mirip jurnal harian atau diary, hanya saja dipampangkan di akun media sosial sehingga bisa disimak dan direspon banyak orang.

Kembali ke Elkana, dia adalah salah satu anak muda GKI Terusan Pasir Koja yang rajin mengunggah kegiatan komunitas pemuda ke akun youtube miliknya, dengan gayanya yang naratif. Pada vlogg #15 dengan judul Gue Belajar Agama, dia bercerita tentang cafe religi yang diadakan oleh Komisi Remaja Klasis Bandung. Elkana bercerita tentang agama lain yang dia pelajari dari satu pos ke pos lain [Lihat: Remaja GKI Klasis Bandung Gelar Cafe Religi]. Penyajian Elkana sangat inspiratif.

Pada vlog lainnya, Elkana bercerita tentang kisah Gereja Mau Ditutup. Sebuah cerita yang dibagikan oleh Pdt. Hendra Setiapraja dari GKI Cianjur, saat COY (Community of Youth, komunitas pemuda GKI se-Bandung) berkunjung ke rumah belajar Ciranjang, binaan gereja tersebut. Saudara bisa bayangkan, bagaimana vlog Elkana ini menjadi sebuah cara bersaksi yang baru di zaman ini.

Saya perkenalkan lagi, Grace Aprilia, pemudi dari GKI Ayudia. Dia bercerita tentang komunitas COYCare (divisi sosial COY), yang melakukan kegiatan kebersamaan ke pesantren At Tamur. Mereka bercengkrama dan saling mengenal, lalu melakukan karya bersama saat momen ngabuburit [Lihat: Di Pesantren Jalanan At-Tamur COY GKI Ngabuburit dan Berbagi].

Grace berkomentar, “Sejak kecil saya orang yang pemalu. Sejak kecil saya kurang bersinggungan dengan orang yang berbeda keyakinan. Melalui COYCare, saya belajar tentang keragaman dan toleransi.

Dua teladan ini sebenarnya adalah latar untuk pertanyaan yang ingin saya tanyakan pada setiap jemaat lokal GKI. Pertanyaan saya, di bagian mana kira-kira dalam struktur kebanyakan GKI sekarang, talenta seperti Elkana dan kesempatan yang dirindukan Grace, bisa tertampung? Boleh dikatakan memang hal-hal seperti itu hampir tak ada ruang di GKI, bahkan mungkin belum dilirik oleh kebanyakan majelis jemaat.

Pertanyaan ini lantas menggugat satu permasalah klasik yang sering dikeluhkan di kebanyakan gereja Protestan klasik. Apakah memang pemuda jaman ini tidak ada kualitas atau kitanya saja sebagai pengambil keputusan di gereja yang kurang mengakomodasi dan memberi ruang. Ruang untuk mereka berekspresi serta membuat atmosfer dan infrastruktur yang bersahabat.

Yoris Sebastian, pengusaha muda dan penulis yang fasih menerjemahkan ide kreatif kaum milenial pernah berkomentar bahwa generasi milenial cenderung mencari sesuatu yang baru jika pekerjaan yang ada saat ini dianggap terlalu monoton. Mereka bukan tidak loyal, tetapi memilih hal-hal yang memang perlu dan pantas untuk disetiakan.

Tentu pertanyaan kritisnya adalah apakah kegiatan pelayanan gerejawi seperti yang kita lakukan selama ini dinilai perlu dan pantas disetiakan oleh kaum milenial? Kalaupun belum begitu bagaimana bisa mengkonsepkan agar gereja bisa merespon hal ini dengan tepat?

Dari sekian lama melayani di pelayanan kaum muda gereja dan kini menjadi steering committee untuk kawan-kawan muda di COY Bandung, saya menyarikan beberapa rekomendasi yang terbuka untuk diuji.

Pertama, stop menjadikan pemuda sebagai obyek. Mengarahkan pembinaan bukannya tidak penting, tapi terkadang terlampau top down, serba diatur dan memakai gaya komando. Kita harus mampu memfasilitasi dan mengarahkan konten pembinaan yang sifatnya user generated content. Disinilah kepemimpinan gerejawi semakin ditantang untuk menjadi fasilitator dan kolaborator yang baik.

Kedua, hindari template, tumbuhkan gaya pelayanan organik. Gereja mestinya berperan sebagai tanah subur yang menampung begitu banyak potensi baru. Setiap pemuda harus dipandang sebagai benih dengan potensi berbeda. Bukan dengan kaku menyajikan template pelayanan yang tak boleh diubah. Sebagaimana  dicontohkan tadi, kalau memaksa format baku kebaktian ala persekutuan pemuda, kita justru kehilangan talenta kreatif vlogger seperti Elkana, karena tak ada ruang untuknya di gereja.

Ketiga, lampaui pola pikir aktivitas dan program, masuklah ke pemikiran soal dampak. Aktivitas dan program harus jelas dan tidak sekedar membuang-buang waktu. Saya ambil contoh konkrit ketika COY berkunjung untuk mendukung program pasar murah di GKI Cianjur. Aktivitasnya adalah mengumpulkan barang-barang dan dijual dengan harga yang sangat murah. Para pemuda COY ini bertanya, “Untuk apa?  Bagaimana cara mengumpulkan barang-barang untuk dijual?”

Ketika mereka tahu bahwa kegiatan tersebut untuk mendukung program Rumah Singgah GKI Cianjur, mereka tahu bahwa apa yang mereka lakukan berdampak dan membuat perbedaan, bukan hanya sekedar berlelah-lelah.

Rekomendasi keempat adalah tentang model kepemimpinan. Pemuda GKI merindukan sosok role model yang mampu mendampingi mereka, bukan hanya sekedar nyuruh. Kata mentoring, coaching, dan semua pembinaan bernuansa pendampingan personal dan cair, adalah kunci mendekatkan diri pada para pemuda masa kini.

Kelima, rasanya perlu ada semacam Youth Center, untuk jadi community hub. Memfasilitasi koneksi antara dana, talenta, ide kreatif, serta banyak hal lain yang ada dalam potensi pemuda dan gereja. Gereja perlu serius mengusahakan hal ini, bukan cuma sekedar memberi satu dua ruangan gereja, tapi jauh lebih penting menstimulus dan mendorong perpaduan tiap elemennya.

Sekali lagi, kelima rekomendasi ini terbuka untuk diuji dan ditajamkan, juga diadaptasi sesuai konteks lokasi dan waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *