Pelayanan Keluarga: “Investasi” terbesar Gereja

Tulisan yang dibuat dalam rangka Bulan Keluarga GKI 2017

Sepanjang bulan Oktober 2017, saya dijadwalkan untuk memberikan seminar/sesi tentang teknologi, generasi Z dan generasi Alfa baik kepada siswa dan orang tua. Seminar tersebut ada yang diselenggarakan oleh sekolah (SDK 6 BPK Penabur, Jakarta) dan gereja (GKI Kelapa Gading, Jakarta dan GKI Kebon Jati, Bandung). Isu teknologi dan generasi ini menjadi perhatian tersendiri bagi gereja dan sekolah dalam membina siswa/orang tua dan jemaatnya.

Isu ini terbukti dengan hasil riset Pusat Kajian Komunikasi Universitas Indonesia tentang profil pengguna internet Indonesia tahun 2014. Salah satu hasil riset tersebut memberi data bahwa sebanyak 93% pengguna internet tinggal bersama keluarga, bahkan 84% tinggal bersama keluarga batih (keluarga dengan anggota ayah, ibu dan anak yang belum menikah). Hasil riset ini menekankan betapa pentingnya pembinaan holistik di keluarga tentang penggunaan teknologi. Selain penggunaan teknologi, tentu ada hal lain juga yang harus diperhatikan mengenai pembinaan keluarga ini.

Secara khusus, saya sangat mengapresiasi Gereja yang memberikan perhatian khusus terhadap pelayanan keluarga. Karena menurut saya, keadaan keluarga menentukan keadaan gereja. Lebih jauh lagi, keadaan keluarga menentukan keadaan masyarakat, bangsa dan negara. Mengapa demikian? karena keluarga adalah institusi terkecil yang ada di masyarakat/jemaat. Mezbah doa terkecil ada di keluarga, pembelajaran budaya/sopan santun ada di keluarga dan pola asuh paling dasar pun ada di keluarga. Menurut saya, pelayanan keluarga adalah “investasi” terbesar dari pelayanan gereja, melebihi investasi di bidang fisik seperti gedung dan fasilitas pelayanan.

Sebagai contoh misalnya: menurut saya semangat melayani itu harus dimulai sejak kecil, maka apabila seorang anak sudah dibiasakan untuk melayani (ikut paduan suara misalnya) maka ketika ia besar, ia akan cenderung terus melayani. Dan seorang anak yang belajar melayani harus difasilitasi oleh orang tuanya (seperti mengantar latihan dsb). Orang tua harus rela pulang gereja lebih siang karena harus menunggu sang anak berlatih, atau bahkan mengantar sang anak berlatih di hari selain hari Minggu.

GKI secara “kebiasaan” menyelenggarakan bulan keluarga di bulan Oktober. Semoga hal kebiasaan tersebut menjadi hal yang dimaknai dengan baik dan pelayanan keluarga dapat terus dilakukan selain di bulan keluarga. Selamat menjalani bulan keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *