Gajah mati meninggalkan gading, orang mati meninggalkan nama (a tribute for my dad)

Menjelang 3 (tiga) bulan kepergiaan papa ke surga, saya dan keluarga berkunjung ke kota Sorong, Papua untuk mengurus berkas-berkas almarhum papa. Kami juga berkunjung ke Kabupaten Maybrat tempat papa bekerja sebagai pegawai negeri sipil dan tempat di mana dia dibesarkan. Berkas-berkas tersebut adalah untuk pengurusan dana pensiun serta hak-hak papa sebagai pegawai.

Saya termasuk anak yang jarang bercerita dengan papa, beda dengan adik saya yang memang suka cerita dengan beliau. Saya juga tahu tentang kehidupan masa kecil papa dan cerita tentang pekerjaannya pun dari mama atau orang lain. Tibalah saya di Papua, di Sorong dan Maybrat. Di sana saya baru tahu tentang kehidupan papa saya yang luar biasa dari orang-orang yang mengenalnya.

 
Places where dad spent his childhood

Kata mereka papa adalah orang yang baik, orang yang suka memberi tanpa berhitung. Seseorang yang berhati besar dan bersih ketika menjabat sebagai pejabat daerah. Sebagai atasan, papa adalah orang yang melihat kinerja seseorang dengan objektif. Beliau menerima pegawai bukan karena “titipan” atau karena hubungan keluarga. Bangga rasanya sebagai anak dan memang benar kata peribahasa, “orang mati meninggalkan nama”.

Seorang relasi papa berkata bahwa papa tidak mengumpulkan harta banyak, tapi dia “mengumpulkan” di orang-orang dan menjadi berkat bagi kehidupan orang lain. Ini juga sejalan dengan refleksi mama bahwa saya dan adik diberi berkat beasiswa dan kelancaran dalam belajar dan bekerja adalah karena papa yang sudah menanam di masa lalu.

Saya juga baru tahu bagaimana kehidupan beliau di masa kecil. Kampung yang beliau tinggali sangat sederhana, saya bahkan membayangkan kampung ini dulu tanpa listrik dan air bersih. Untuk bersekolah pun harus berjalan 2 KM. Beliau menghabiskan SD dan SMP di daerah Maybrat ini. Baru ketika SMA, beliau ke kota Sorong lalu melanjutkan ke kota Klaten. Kehidupan yang sangat keras yang beliau jalani.

Saya jadi teringat sambutan saya sendiri di kebaktian penghiburan almarhum papa bahwa, “saya seperti ini adalah karena papa saya”. Kalimat itu semakin jelas dan bermakna ketika saya tahu kehidupan papa.

Seandainya papa malas pergi ke sekolah karena harus jalan kaki sejauh 2 KM, seandainya dia tidak berani keluar dari daerahnya untuk sekolah ke tempat yang lebih baik dan seandainya dia menjadi pegawai negeri yang tidak bersih. Saya tidak bisa bayangkan saya seperti apa.

Well, today I am coming back to Bandung with stories and reflection about my dad. Cerita dan refleksi tersebut yang  membuat saya semakin kuat menjalani kehidupan sejak ditinggal papa.

One thought on “Gajah mati meninggalkan gading, orang mati meninggalkan nama (a tribute for my dad)

  1. Saya juga pernah merasakan kehilangan orang yang kita sayang, semoga orang yang kita sayang yang sudah pergi meninggalkan kita mendapatkan tempat yang bagik di sisi-Nya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *