Daily Habits

Rutinitas tanpa tujuan adalah hal yang mengerikan; namun rutinitas tidak bisa dihindari. Sehingga rutinitas sebetulnya tidak selalu negatif. Apabila kita menjalankan rutinitas dengan tujuan yang jelas dan memiliki pola pikir yang benar tentang keseharian, maka kita dapat menjalani rutinitas dengan baik.

Apa yang harus dilakukan setiap hari, harus dilakukan setiap hari (makan, tidur, olahraga). Hal ini benar secara jasmani dan benar secara rohani. Kita tidak bisa berdoa hanya di hari minggu untuk satu minggu. Doa dan saat teduh harus dilakukan setiap hari. Seperti doa yang diajarkan Yesus:


“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” – Matius 6:11.

Doa tersebut tidak minta makanan untuk satu minggu atau bahkan satu bulan (padahal satu bulan lebih praktis). Demikian halnya dengan berkat-Nya yang baru setiap hari:

Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” – Ratapan 3:21-22.

Kita belajar dari bangsa Israel yang Tuhan didik sepanjang perjalanan mereka dari Mesir ke tanah perjanjian. Di Keluaran 16 ayat 4, 15, 16 dan 20 bangsa Israel mendapat pendidikan dari Tuhan terkait makanan manna yang jatuh dari surga.

“Aturan” yang Tuhan tetapkan adalah satu gomer manna untuk satu hari dan pada hari yang keenam, bangsa Israel bisa mengambil dua gomer (karena di hari ketujuh tidak ada manna yang turun). Ada saja orang Israel yang mengambil dua gomer selain di hari ke-enam sehingga manna menjadi busuk. Namun apakah manna tersebut memang busuk apabila disimpan lebih dari satu hari? Saya rasa tidak, karena toh pada hari yang ke-enam, manna yang mereka ambil tidak busuk untuk keesokan harinya. Dan saya yakin, Tuhan Allah tidak hanya sekedar iseng tentang aturan manna tersebut, Tuhan Allah sedang melatih bangsa Israel untuk disiplin dan mengeluarkan mental budak dari diri mereka. Kesimpulan dari kisah tersebut adalah

Tuhan hanya perlu satu hari untuk membebaskan (secara fisik) bangsa Israel dari tanah Mesir, namun perlu setiap hari (selama 40 tahun) untuk mengeluarkan mental budak dari bangsa Israel.

Sama halnya dengan kita:

“To change your circumstances, God need a day. But to change you, it takes a lifetime. It takes every single day…”

Tuhan lebih tertarik mengubah kita daripada mengubah persoalan yang ada di sekeliling kita.

Maka kita harus menjalani rutinitas kehidupan dengan pola pikir seperti ini. Di saat jenuh, justru kita harus lebih tekun karena disiplin dan etos kerja dilatih setiap hari bukan hanya sebuah resolusi atau tekad dalam satu hari.

Proses mengenal Tuhan juga adalah sebuah proses keseharian. Kita tidak bisa berharap mengenal-Nya secara penuh hanya dari acara retreat/camp saja, namun harus mau berjalan bersama Dia dalam keseharian.

Disampaikan pada Persekutuan Pemuda “BontiYouth” (GKI Kebon Jati, 24 Agustus 2017)

Berikut full slides dari sesi di atas:


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *