5 Tips Mengerjakan Tugas Akhir

Sesuai dengan namanya, tugas akhir/skripsi merupakan tugas paling akhir yang harus dikerjakan oleh seorang mahasiswa sarjana. Bagi kita yang suka maen game, bisa dikatakan juga bahwa mengerjakan tugas akhir itu merupakan “final boss” dari “game sarjana” dimana mahasiswa merupakan tokoh utamanya.

Tugas akhir seharusnya dipandang sebagai “pinnacle” (the most successful point) dari karya seorang mahasiswa. Tugas akhir merupakan medan pertempuran dimana mahasiswa menggunakan seluruh pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama masa studi di universitas. Tugas akhir juga seharusnya menjadi kebanggaan dari seorang mahasiswa ketika ia menyelesaikan program sarjananya.

Namun seringkali yang saya temui adalah tugas akhir menjadi “bottleneck” atau penghambat seorang mahasiswa untuk lulus program sarjana. Tugas akhir juga malah menjadi sumber stress yang cukup tinggi di kalangan mahasiswa tingkat akhir.

Saya rasa salah satu penyebab dari hal tersebut adalah aspek kemandirian yang ada pada tugas akhir. Seorang mahasiswa mengerjakan tugas akhir secara individu berbeda ketika ia berkuliah atau mengerjakan tugas. Selain itu, proses tugas akhir yang cukup panjang, mulai dari penelitian awal, mencari referensi, proses bimbingan hingga proses menulis dan revisi yang sangat melelahkan dan malah menjadi sumber stress bagi mahasiswa.

Agar tidak menjadi “bottle neck“, maka proses pengerjaan tugas akhir harus dikelola dengan baik. Cara mengelola pengerjaan tugas akhir ini yang menurut saya kurang diajarkan kepada mahasiswa. Menurut saya, pengelolaan ini sangatlah penting dan dapat menjadi faktor pembeda antara seorang mahasiswa yang berhasil mengerjakan tugas akhir dan yang tidak. So,di sini saya coba berbagi beberapa tips dalam mengelola pengerjaan tugas akhir dan beberapa diantaranya merupakan pengalaman pribadi.

  1. Mulai dengan mindset bahwa:Final Project is supposed to be hard and challenging(Tugas akhir itu sudah saharusnya sulit dan menantang). Kalau tugas akhir mudah, ya tentu namanya bukan tugas akhir. Tugas akhir memang seharusnya sulit dan memaksa kita untuk belajar dan bekerja lebih keras. Kita harus melihat tugas akhir sebagai sesuatu tantangan. Sesuatu yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu dengan kualitas terbaik. Dan pada prakteknya, sedikit banyak mahasiswa akan diperhadapkan dengan banyak pengetahuan yang belum pernah ia pelajari semasa kuliah. Ketika saya dulu memulai tugas akhir, saya menggunakan metode elemen hingga (finite element) yang sama sekali belum pernah dipelajari semasa saya kuliah. Namun, saya tetap harus belajar metode tersebut berbekal pengetahuan yang saya pelajari semasa kuliah. Denganmindset ini, kita menjadi siap secara mental ketika menghadapi kesulitan saat mengerjaka tugas akhir (dan by the way, kita pasti menghadapi kesulitan). In final project difficulties is inevitable.  
  2. Punya buku catatan tugas akhir. Saya sarankan untuk memiliki buku catatan tugas akhir. Buku di sini dalam arti buku fisik, yang ditulis dengan puplen/pensil, bukan dalam bentuk digital. Dengan buku fisik, kita dapat menulis dan menggambar desain/ide dengan lebih leluasa. Kita dapat membuat sketsa/diagram alir dengan lebih bebas. KIta juga dapat mencatat data dan parameter eksperimen pada buku tersebut. Selain itu, kita dapat mencatat masukan dari dosen pembimbing pada buku tersebut. Menurut saya manfaat terbesar adalah buku tugas akhir dapat memberikan sense of progress. Dengan begitu kita dapat bersyukur untuk progressyang kita lalui dan memberikan motivasi kepada kita untuk menyelesaikan tugas akhir.
  3. Mulailah menulis. Menulis tugas akhir dalam bentuk buku tidaklah harus menunggu hingga penelitian selesai. Prinsip saya: write what you can write. Contoh: bab dasar teori tidaklah harus ditulis nanti pada saat penelitian rampung. Kita dapat dengan segera menulis dasar teori yang berasal dari buku rujukan. Contoh lainnya adalah saat menulis referensi (biasanya di bab pendahuluan) yang dapat segera kita tulis setelah mendapatkan referensi yang relevan. Lalu bagaimana apabila kita tidak memerlukan semua referensi/dasar teori? Kita dapat mengeliminasi yang tidak kita gunakan nanti saat mengkompilasi tugas akhir. Poinnya adalah kita dapat belajar menyampaikan gagasan secara tertulis. Dan apabila kita ingin memiliki tulisan yang baik, tentu kita harus belajar menulis. So, start writing.
  4. Miliki teman diskusi. My definition of “friend”: the person who can keep my insanity. Ketika saya dulu mengerjakan tugas akhir (dan tesis serta disertasi), saya seringkali mengalami stress yang berkepanjangan. Ketika itu, hal yang paling tidak mengenakan adalah ketika stress sendirian dan kemudian saya terjebak untuk menutup diri dari orang lain. It was a painful process. Tidak betah dalam kondisi seperti itu, saya lalu belajar untuk berdiskusi tugas akhir dengan teman. Teman tersebut mungkin tidak mengerti banyak tentang topik yang sedang saya kerjakan, namun seringkali masukan sederhana dan polos yang ia berikan kepada saya justru yang berhasil.Sometimes we overcomplicate things and we need some simple solution. Selain memberi masukan, mereka (terutama yang senasib dan sepenanggungan) dapat menjadi teman hangout. Terkadang kita butuh “melarikan diri” sejenak dari mumetnya tugas akhir. Dan terkadang saat “melarikan diri” itulah kita mendapat ide brilian untuk memecahkan persoalan tugas akhir.
  5. Jangan “kabur” dari dosen pembimbing dan pertemuan rutin bimbingan.You just have to show up, even there is no progress. Satu hal yang saya salah mengerti ketika dulu mengerjakan tugas akhir adalah saya berpikir bahwa saya harus membawa progress/hasil ketika bimbingan; dan kalau saya tidak membawa hasil saya tidak “layak” untuk menghadap dosen pembimbing. Well, it is totally wrong.Saya rasa tiap proses (bukan progress) harus kita laporkan sebagai bentuk akuntabilitas dan apabila kita “mentok”, kita dapat bercerita kendala yang kita temui. Kesalahan yang sering saya lihat adalah mahasiswa justru menjadi “buronan” or “most wanted”, yang terus menghindar apabila akan ketemu dosen pembimbing. Sekali kita melarikan diri, sangat sulit untuk melakukan bimbingan; kita akan terjebak pada behavioryang terus menghindar dan pada akhirnya tugas akhir menjadi terbengkalai.The truth is, I’ve been there. Dulu sewaktu mengerjakan tugas akhir sarjana, saya sempat “menghilang” dari peredaran di kampus selama 6 bulan. Awalnya saya enggan bimbingan karena tidak ada progress. Satu kali skip, berlanjut ke skip yang selanjutnya dan tanpa sadar, saya sudah menghilang selama 6 bulan. Sungguh sulit untuk kembali pada track ketika itu, dan pulih dari perasaan “malu” ketika bertemu dosen pembimbing. Saya lalu memulai kembali pengerjaan tugas akhir dengan langkah sederhana, yaitu menghadap dosen pembimbing dengan “progressseadanya”, sejak itu momentum dimulai dan semangat saya pulih kembali. So, just show up and start the momentum.

Sesuai dengan namanya, tugas akhir/skripsi merupakan tugas paling akhir yang harus dikerjakan oleh seorang mahasiswa sarjana. Bagi kita yang suka maen game, bisa dikatakan juga bahwa mengerjakan tugas akhir itu merupakan “final boss” dari “game sarjana” dimana mahasiswa merupakan tokoh utamanya.

Tugas akhir seharusnya dipandang sebagai “pinnacle” (the most successful point) dari karya seorang mahasiswa. Tugas akhir merupakan medan pertempuran dimana mahasiswa menggunakan seluruh pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama masa studi di universitas. Tugas akhir juga seharusnya menjadi kebanggaan dari seorang mahasiswa ketika ia menyelesaikan program sarjananya.

Namun seringkali yang saya temui adalah tugas akhir menjadi “bottleneck” atau penghambat seorang mahasiswa untuk lulus program sarjana. Tugas akhir juga malah menjadi sumber stress yang cukup tinggi di kalangan mahasiswa tingkat akhir.

Saya rasa salah satu penyebab dari hal tersebut adalah aspek kemandirian yang ada pada tugas akhir. Seorang mahasiswa mengerjakan tugas akhir secara individu berbeda ketika ia berkuliah atau mengerjakan tugas. Selain itu, proses tugas akhir yang cukup panjang, mulai dari penelitian awal, mencari referensi, proses bimbingan hingga proses menulis dan revisi yang sangat melelahkan dan malah menjadi sumber stress bagi mahasiswa.

Agar tidak menjadi “bottle neck“, maka proses pengerjaan tugas akhir harus dikelola dengan baik. Cara mengelola pengerjaan tugas akhir ini yang menurut saya kurang diajarkan kepada mahasiswa. Menurut saya, pengelolaan ini sangatlah penting dan dapat menjadi faktor pembeda antara seorang mahasiswa yang berhasil mengerjakan tugas akhir dan yang tidak. So,di sini saya coba berbagi beberapa tips dalam mengelola pengerjaan tugas akhir dan beberapa diantaranya merupakan pengalaman pribadi.

  1. Mulai dengan mindset bahwa:Final Project is supposed to be hard and challenging(Tugas akhir itu sudah saharusnya sulit dan menantang). Kalau tugas akhir mudah, ya tentu namanya bukan tugas akhir. Tugas akhir memang seharusnya sulit dan memaksa kita untuk belajar dan bekerja lebih keras. Kita harus melihat tugas akhir sebagai sesuatu tantangan. Sesuatu yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu dengan kualitas terbaik. Dan pada prakteknya, sedikit banyak mahasiswa akan diperhadapkan dengan banyak pengetahuan yang belum pernah ia pelajari semasa kuliah. Ketika saya dulu memulai tugas akhir, saya menggunakan metode elemen hingga (finite element) yang sama sekali belum pernah dipelajari semasa saya kuliah. Namun, saya tetap harus belajar metode tersebut berbekal pengetahuan yang saya pelajari semasa kuliah. Denganmindset ini, kita menjadi siap secara mental ketika menghadapi kesulitan saat mengerjaka tugas akhir (dan by the way, kita pasti menghadapi kesulitan). In final project difficulties is inevitable.  
  2. Punya buku catatan tugas akhir. Saya sarankan untuk memiliki buku catatan tugas akhir. Buku di sini dalam arti buku fisik, yang ditulis dengan puplen/pensil, bukan dalam bentuk digital. Dengan buku fisik, kita dapat menulis dan menggambar desain/ide dengan lebih leluasa. Kita dapat membuat sketsa/diagram alir dengan lebih bebas. KIta juga dapat mencatat data dan parameter eksperimen pada buku tersebut. Selain itu, kita dapat mencatat masukan dari dosen pembimbing pada buku tersebut. Menurut saya manfaat terbesar adalah buku tugas akhir dapat memberikan sense of progress. Dengan begitu kita dapat bersyukur untuk progressyang kita lalui dan memberikan motivasi kepada kita untuk menyelesaikan tugas akhir.
  3. Mulailah menulis. Menulis tugas akhir dalam bentuk buku tidaklah harus menunggu hingga penelitian selesai. Prinsip saya: write what you can write. Contoh: bab dasar teori tidaklah harus ditulis nanti pada saat penelitian rampung. Kita dapat dengan segera menulis dasar teori yang berasal dari buku rujukan. Contoh lainnya adalah saat menulis referensi (biasanya di bab pendahuluan) yang dapat segera kita tulis setelah mendapatkan referensi yang relevan. Lalu bagaimana apabila kita tidak memerlukan semua referensi/dasar teori? Kita dapat mengeliminasi yang tidak kita gunakan nanti saat mengkompilasi tugas akhir. Poinnya adalah kita dapat belajar menyampaikan gagasan secara tertulis. Dan apabila kita ingin memiliki tulisan yang baik, tentu kita harus belajar menulis. So, start writing.
  4. Miliki teman diskusi. My definition of “friend”: the person who can keep my insanity. Ketika saya dulu mengerjakan tugas akhir (dan tesis serta disertasi), saya seringkali mengalami stress yang berkepanjangan. Ketika itu, hal yang paling tidak mengenakan adalah ketika stress sendirian dan kemudian saya terjebak untuk menutup diri dari orang lain. It was a painful process. Tidak betah dalam kondisi seperti itu, saya lalu belajar untuk berdiskusi tugas akhir dengan teman. Teman tersebut mungkin tidak mengerti banyak tentang topik yang sedang saya kerjakan, namun seringkali masukan sederhana dan polos yang ia berikan kepada saya justru yang berhasil.Sometimes we overcomplicate things and we need some simple solution. Selain memberi masukan, mereka (terutama yang senasib dan sepenanggungan) dapat menjadi teman hangout. Terkadang kita butuh “melarikan diri” sejenak dari mumetnya tugas akhir. Dan terkadang saat “melarikan diri” itulah kita mendapat ide brilian untuk memecahkan persoalan tugas akhir.
  5. Jangan “kabur” dari dosen pembimbing dan pertemuan rutin bimbingan.You just have to show up, even there is no progress. Satu hal yang saya salah mengerti ketika dulu mengerjakan tugas akhir adalah saya berpikir bahwa saya harus membawa progress/hasil ketika bimbingan; dan kalau saya tidak membawa hasil saya tidak “layak” untuk menghadap dosen pembimbing. Well, it is totally wrong.Saya rasa tiap proses (bukan progress) harus kita laporkan sebagai bentuk akuntabilitas dan apabila kita “mentok”, kita dapat bercerita kendala yang kita temui. Kesalahan yang sering saya lihat adalah mahasiswa justru menjadi “buronan” or “most wanted”, yang terus menghindar apabila akan ketemu dosen pembimbing. Sekali kita melarikan diri, sangat sulit untuk melakukan bimbingan; kita akan terjebak pada behavioryang terus menghindar dan pada akhirnya tugas akhir menjadi terbengkalai.The truth is, I’ve been there. Dulu sewaktu mengerjakan tugas akhir sarjana, saya sempat “menghilang” dari peredaran di kampus selama 6 bulan. Awalnya saya enggan bimbingan karena tidak ada progress. Satu kali skip, berlanjut ke skip yang selanjutnya dan tanpa sadar, saya sudah menghilang selama 6 bulan. Sungguh sulit untuk kembali pada track ketika itu, dan pulih dari perasaan “malu” ketika bertemu dosen pembimbing. Saya lalu memulai kembali pengerjaan tugas akhir dengan langkah sederhana, yaitu menghadap dosen pembimbing dengan “progressseadanya”, sejak itu momentum dimulai dan semangat saya pulih kembali. So, just show up and start the momentum.

Sesuai dengan namanya, tugas akhir/skripsi merupakan tugas paling akhir yang harus dikerjakan oleh seorang mahasiswa sarjana. Bagi kita yang suka maen game, bisa dikatakan juga bahwa mengerjakan tugas akhir itu merupakan “final boss” dari “game sarjana” dimana mahasiswa merupakan tokoh utamanya.

Tugas akhir seharusnya dipandang sebagai “pinnacle” (the most successful point) dari karya seorang mahasiswa. Tugas akhir merupakan medan pertempuran dimana mahasiswa menggunakan seluruh pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama masa studi di universitas. Tugas akhir juga seharusnya menjadi kebanggaan dari seorang mahasiswa ketika ia menyelesaikan program sarjananya.

Namun seringkali yang saya temui adalah tugas akhir menjadi “bottleneck” atau penghambat seorang mahasiswa untuk lulus program sarjana. Tugas akhir juga malah menjadi sumber stress yang cukup tinggi di kalangan mahasiswa tingkat akhir.

Saya rasa salah satu penyebab dari hal tersebut adalah aspek kemandirian yang ada pada tugas akhir. Seorang mahasiswa mengerjakan tugas akhir secara individu berbeda ketika ia berkuliah atau mengerjakan tugas. Selain itu, proses tugas akhir yang cukup panjang, mulai dari penelitian awal, mencari referensi, proses bimbingan hingga proses menulis dan revisi yang sangat melelahkan dan malah menjadi sumber stress bagi mahasiswa.

Agar tidak menjadi “bottle neck“, maka proses pengerjaan tugas akhir harus dikelola dengan baik. Cara mengelola pengerjaan tugas akhir ini yang menurut saya kurang diajarkan kepada mahasiswa. Menurut saya, pengelolaan ini sangatlah penting dan dapat menjadi faktor pembeda antara seorang mahasiswa yang berhasil mengerjakan tugas akhir dan yang tidak. So, di sini saya coba berbagi beberapa tips dalam mengelola pengerjaan tugas akhir dan beberapa diantaranya merupakan pengalaman pribadi.

  1. Mulai dengan mindset bahwa:Final Project is supposed to be hard and challenging (Tugas akhir itu sudah saharusnya sulit dan menantang). Kalau tugas akhir mudah, ya tentu namanya bukan tugas akhir. Tugas akhir memang seharusnya sulit dan memaksa kita untuk belajar dan bekerja lebih keras. Kita harus melihat tugas akhir sebagai sesuatu tantangan. Sesuatu yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu dengan kualitas terbaik. Dan pada prakteknya, sedikit banyak mahasiswa akan diperhadapkan dengan banyak pengetahuan yang belum pernah ia pelajari semasa kuliah. Ketika saya dulu memulai tugas akhir, saya menggunakan metode elemen hingga (finite element) yang sama sekali belum pernah dipelajari semasa saya kuliah. Namun, saya tetap harus belajar metode tersebut berbekal pengetahuan yang saya pelajari semasa kuliah. Denganmindset ini, kita menjadi siap secara mental ketika menghadapi kesulitan saat mengerjaka tugas akhir (dan by the way, kita pasti menghadapi kesulitan). In final project difficulties is inevitable.  
  2. Punya buku catatan tugas akhir. Saya sarankan untuk memiliki buku catatan tugas akhir. Buku di sini dalam arti buku fisik, yang ditulis dengan puplen/pensil, bukan dalam bentuk digital. Dengan buku fisik, kita dapat menulis dan menggambar desain/ide dengan lebih leluasa. Kita dapat membuat sketsa/diagram alir dengan lebih bebas. KIta juga dapat mencatat data dan parameter eksperimen pada buku tersebut. Selain itu, kita dapat mencatat masukan dari dosen pembimbing pada buku tersebut. Menurut saya manfaat terbesar adalah buku tugas akhir dapat memberikan sense of progress. Dengan begitu kita dapat bersyukur untuk progressyang kita lalui dan memberikan motivasi kepada kita untuk menyelesaikan tugas akhir.
  3. Mulailah menulis. Menulis tugas akhir dalam bentuk buku tidaklah harus menunggu hingga penelitian selesai. Prinsip saya: write what you can write. Contoh: bab dasar teori tidaklah harus ditulis nanti pada saat penelitian rampung. Kita dapat dengan segera menulis dasar teori yang berasal dari buku rujukan. Contoh lainnya adalah saat menulis referensi (biasanya di bab pendahuluan) yang dapat segera kita tulis setelah mendapatkan referensi yang relevan. Lalu bagaimana apabila kita tidak memerlukan semua referensi/dasar teori? Kita dapat mengeliminasi yang tidak kita gunakan nanti saat mengkompilasi tugas akhir. Poinnya adalah kita dapat belajar menyampaikan gagasan secara tertulis. Dan apabila kita ingin memiliki tulisan yang baik, tentu kita harus belajar menulis. So, start writing.
  4. Miliki teman diskusi. My definition of “friend”: the person who can keep my insanity. Ketika saya dulu mengerjakan tugas akhir (dan tesis serta disertasi), saya seringkali mengalami stress yang berkepanjangan. Ketika itu, hal yang paling tidak mengenakan adalah ketika stress sendirian dan kemudian saya terjebak untuk menutup diri dari orang lain. It was a painful process. Tidak betah dalam kondisi seperti itu, saya lalu belajar untuk berdiskusi tugas akhir dengan teman. Teman tersebut mungkin tidak mengerti banyak tentang topik yang sedang saya kerjakan, namun seringkali masukan sederhana dan polos yang ia berikan kepada saya justru yang berhasil.Sometimes we overcomplicate things and we need some simple solution. Selain memberi masukan, mereka (terutama yang senasib dan sepenanggungan) dapat menjadi teman hangout. Terkadang kita butuh “melarikan diri” sejenak dari mumetnya tugas akhir. Dan terkadang saat “melarikan diri” itulah kita mendapat ide brilian untuk memecahkan persoalan tugas akhir.
  5. Jangan “kabur” dari dosen pembimbing dan pertemuan rutin bimbingan.You just have to show up, even there is no progress. Satu hal yang saya salah mengerti ketika dulu mengerjakan tugas akhir adalah saya berpikir bahwa saya harus membawa progress/hasil ketika bimbingan; dan kalau saya tidak membawa hasil saya tidak “layak” untuk menghadap dosen pembimbing. Well, it is totally wrong.Saya rasa tiap proses (bukan progress) harus kita laporkan sebagai bentuk akuntabilitas dan apabila kita “mentok”, kita dapat bercerita kendala yang kita temui. Kesalahan yang sering saya lihat adalah mahasiswa justru menjadi “buronan” or “most wanted”, yang terus menghindar apabila akan ketemu dosen pembimbing. Sekali kita melarikan diri, sangat sulit untuk melakukan bimbingan; kita akan terjebak pada behavioryang terus menghindar dan pada akhirnya tugas akhir menjadi terbengkalai.The truth is, I’ve been there. Dulu sewaktu mengerjakan tugas akhir sarjana, saya sempat “menghilang” dari peredaran di kampus selama 6 bulan. Awalnya saya enggan bimbingan karena tidak ada progress. Satu kali skip, berlanjut ke skip yang selanjutnya dan tanpa sadar, saya sudah menghilang selama 6 bulan. Sungguh sulit untuk kembali pada track ketika itu, dan pulih dari perasaan “malu” ketika bertemu dosen pembimbing. Saya lalu memulai kembali pengerjaan tugas akhir dengan langkah sederhana, yaitu menghadap dosen pembimbing dengan “progressseadanya”, sejak itu momentum dimulai dan semangat saya pulih. So, just show up and start the momentum.

Gajah mati meninggalkan gading, orang mati meninggalkan nama (a tribute for my dad)

Menjelang 3 (tiga) bulan kepergiaan papa ke surga, saya dan keluarga berkunjung ke kota Sorong, Papua untuk mengurus berkas-berkas almarhum papa. Kami juga berkunjung ke Kabupaten Maybrat tempat papa bekerja sebagai pegawai negeri sipil dan tempat di mana dia dibesarkan. Berkas-berkas tersebut adalah untuk pengurusan dana pensiun serta hak-hak papa sebagai pegawai.

Saya termasuk anak yang jarang bercerita dengan papa, beda dengan adik saya yang memang suka cerita dengan beliau. Saya juga tahu tentang kehidupan masa kecil papa dan cerita tentang pekerjaannya pun dari mama atau orang lain. Tibalah saya di Papua, di Sorong dan Maybrat. Di sana saya baru tahu tentang kehidupan papa saya yang luar biasa dari orang-orang yang mengenalnya.

 
Places where dad spent his childhood

Kata mereka papa adalah orang yang baik, orang yang suka memberi tanpa berhitung. Seseorang yang berhati besar dan bersih ketika menjabat sebagai pejabat daerah. Sebagai atasan, papa adalah orang yang melihat kinerja seseorang dengan objektif. Beliau menerima pegawai bukan karena “titipan” atau karena hubungan keluarga. Bangga rasanya sebagai anak dan memang benar kata peribahasa, “orang mati meninggalkan nama”.

Seorang relasi papa berkata bahwa papa tidak mengumpulkan harta banyak, tapi dia “mengumpulkan” di orang-orang dan menjadi berkat bagi kehidupan orang lain. Ini juga sejalan dengan refleksi mama bahwa saya dan adik diberi berkat beasiswa dan kelancaran dalam belajar dan bekerja adalah karena papa yang sudah menanam di masa lalu.

Saya juga baru tahu bagaimana kehidupan beliau di masa kecil. Kampung yang beliau tinggali sangat sederhana, saya bahkan membayangkan kampung ini dulu tanpa listrik dan air bersih. Untuk bersekolah pun harus berjalan 2 KM. Beliau menghabiskan SD dan SMP di daerah Maybrat ini. Baru ketika SMA, beliau ke kota Sorong lalu melanjutkan ke kota Klaten. Kehidupan yang sangat keras yang beliau jalani.

Saya jadi teringat sambutan saya sendiri di kebaktian penghiburan almarhum papa bahwa, “saya seperti ini adalah karena papa saya”. Kalimat itu semakin jelas dan bermakna ketika saya tahu kehidupan papa.

Seandainya papa malas pergi ke sekolah karena harus jalan kaki sejauh 2 KM, seandainya dia tidak berani keluar dari daerahnya untuk sekolah ke tempat yang lebih baik dan seandainya dia menjadi pegawai negeri yang tidak bersih. Saya tidak bisa bayangkan saya seperti apa.

Well, today I am coming back to Bandung with stories and reflection about my dad. Cerita dan refleksi tersebut yang  membuat saya semakin kuat menjalani kehidupan sejak ditinggal papa.

Pelayanan Keluarga: “Investasi” terbesar Gereja

Tulisan yang dibuat dalam rangka Bulan Keluarga GKI 2017

Sepanjang bulan Oktober 2017, saya dijadwalkan untuk memberikan seminar/sesi tentang teknologi, generasi Z dan generasi Alfa baik kepada siswa dan orang tua. Seminar tersebut ada yang diselenggarakan oleh sekolah (SDK 6 BPK Penabur, Jakarta) dan gereja (GKI Kelapa Gading, Jakarta dan GKI Kebon Jati, Bandung). Isu teknologi dan generasi ini menjadi perhatian tersendiri bagi gereja dan sekolah dalam membina siswa/orang tua dan jemaatnya.

Isu ini terbukti dengan hasil riset Pusat Kajian Komunikasi Universitas Indonesia tentang profil pengguna internet Indonesia tahun 2014. Salah satu hasil riset tersebut memberi data bahwa sebanyak 93% pengguna internet tinggal bersama keluarga, bahkan 84% tinggal bersama keluarga batih (keluarga dengan anggota ayah, ibu dan anak yang belum menikah). Hasil riset ini menekankan betapa pentingnya pembinaan holistik di keluarga tentang penggunaan teknologi. Selain penggunaan teknologi, tentu ada hal lain juga yang harus diperhatikan mengenai pembinaan keluarga ini.

Continue reading

Papa: figur yang membuat saya ingin jadi dosen

I am today because of my dad, a genuine example of dedication as a lecturer

Hari ini dua tahun lalu adalah hari ketika saya resmi bekerja sebagai dosen di program studi Teknik Elektro Konsentrasi Mekatronika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Katolik Parahyangan. Memasuki masa dua tahun profesi ini, ada banyak kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan Fakultas kepada saya yang masih tergolong baru ini. Saya merasa over ekspektasi terhadap apa yang Tuhan kerjakan melalui profesi saya ini. Namun itulah Dia, yang selalu memberikan lebih daripada apa yang kita pikiran.

Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita… – Efesus 3:20

Inspirasi dari Papa

Saya bercita-cita menjadi dosen karena inspirasi dari Papa (Soleman Naa S.Sos., M.Si.). Papa yang Tuhan panggil pulang pada tanggal 27 Juli 2017 yang lalu. Papa dipanggil pulang tanpa rasa sakit, beliau meninggal ketika istirahat malam. Salah satu hal yang membekas dalam diri saya adalah contoh nyata beliau yang penuh dedikasi dalam profesinya sebagai dosen dan pegawai negeri sipil ketika bertugas di Papua dulu.

Ketika saya SD dulu, saya sering melihat Papa menyiapkan kuliah dengan transparansi, menggunakan spidol warna dengan tulisan tangannya. Waktu itu belum ada yang namanya proyektor, transparansi tersebut dipakai dengan menggunakan overhead projector. Di jaman itu, transpransi tersebut terlihat sangat keren. Saya yang masih SD sangat takjub melihat Papa yang hampir setiap hari bahkan hingga malam hari mempersiapkan kuliah.

Ketika itu juga, saya seringkali melihat Papa membaca buku. Bahkan sampai Papa ketiduran. Rasanya pemandangan ketika kecil itulah yang membuat saya jadi rajin membaca. Saya ingat ketika SD, beberapa buku Papa tentang house keeping, perhotelan, manajemen dan kepemimpinan sering saya baca.

Meja kerja terakhir Papa; tempat dimana beliau menyiapkan kuliah dan mengerjakan tugas administrasi sebagai anggota senat akademik

Papa: my role model

Saya sebagaimana saya sekarang adalah karena Papa. Terutama perannya yang menginspirasi saya menjadi seorang pengajar. Kami memang jarang ngobrol karena mungkin sejak saya SMA kelas 2 Papa pindah kerja menjadi pegawai negeri sipil di Papua. Namun saya sangat bersyukur, saya sempat curhat ke Papa tentang tawaran posisi di Fakultas. Saya sebetulnya jarang meminta pendapat Papa, namun entah kenapa ketika itu saya ingin meminta persetujuan Papa.

Papa adalah role model yang tidak banyak bicara, lembut, punya hati yang besar, pekerja keras dan tidak merepotkan orang lain bahkan sampai akhir hidupnya. Kehidupannya telah menjadi teladan bagi banyak orang. Papa: my role model.