Bukan kostumnya, tapi orangnya (a lesson from Spiderman: Homecoming)

Tony Stark: What if somebody had died? That’s on you. What if you had died? That’s on me. I don’t need that guilt on my conscience. I’m gonna need the suit back.
Peter Parker: For how long?
Tony Stark: For ever!
Peter Parker: I’m nothing without the suit!
Tony Stark: If you’re nothing without the suit, then you shouldn’t have it.

Spiderman: Homecoming  itu film keren! Actionnya seru, ceritanya keren dan film tersebut mampu memperlihatkan sisi emosional dari seorang Peter Parker. Sisi emosional tersebut dimulai dari dialog antara Peter Parker dan Tony Stark ketika Peter berusaha menolong penumpang yang berada di sebuah kapal pesiar. Dialog tersebut merupakan dialog yang paling saya ingat dan ada pelajaran menarik yang bisa kita ambil.

Identitas kita bukan ditentukan oleh apa yang kita punya dan bukan ditentukan apa yang kita pakai namun ditentukan oleh siapa kita sebenarnya

Tony Stark berkata bahwa apabila Peter merasa bahwa dia bukan siapa-siapa tanpa kostum canggihnya, maka Peter tidak pantas memiliki kostum tersebut. Tanpa sadar, Peter bergantung pada kostum canggihnya tersebut bukan pada kekuatan dan identitas yang dia miliki.

Kalau mau jujur, kita juga kadang demikian. Kita menaruh nilai diri kita pada apa yang kita punya dan pada apa yang kita pakai. Padahal sebetulnya karakter yang ada di dalam diri kita lah yang lebih menentukan pencapaian kita bukan apa yang kita miliki atau yang kita pakai.

Peter Parker bukannya tidak butuh kostum canggih tersebut, namun apabila seorang Peter Parker terlalu bergantung pada kostum bahkan didefinisikan oleh kostum tersebut, maka karakter seorang Peter Parker tidaklah pantas untuk menjadi seorang Spiderman. Itu pelajaran yang hendak Tony Stark ajarkan.

Pelajaran untuk teknik presentasi

Nah, misalnya dalam melakukan presentasi apabila kita terlalu bergantung pada teknologi seperti laptop, pointer, proyektor, sound system dsb maka kita akan terjebak seperti Peter Parker. Kita terlalu berfokus pada teknologi yang akan kita gunakan, bukan pada pesan yang hendak kita sampaikan.

Seringkali saya mengalami hambatan teknologi saat melakukan presentasi/sesi, entah itu dari sound system, proyektor, layar dsb. Namun the show must go on, saya harus tetap bisa menyampaikan pesan tanpa teknologi tersebut.

Bahkan pernah di suatu kali, saya batal menggunakan slides yang sudah saya siapkan karena ruangan tidak kondusif. Format kursi tidak mendukung (berbentuk kotak dengan meja dan kursi) serta letak layar dan proyektor yang kalau saya paksa untuk digunakan akan membuat para pendengar jadi sakit leher. But, it was one of the best session, sesi tetap hidup dengan story telling dan pesan yang disampaikan secara lisan. Bahkan saya bersyukur bahwa ketika itu saya batal menggunakan slides.

Sama seperti Peter Parker yang akhirnya sadar bahwa kekuatan sesungguhnya ada pada dirinya sendiri dan bukan dari kostumnya, saat itu saya makin sadar bahwa teknologi ada untuk menjadi alat bantu bukanlah fokus utama dari presentasi kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *