Q&A Kerja atau Kuliah?

Menyambung posting sebelumnya tentang kerja atau kuliah, di sini saya akan mencoba menjawab beberapa pertanyaan yang sempat diajukan peserta seminar. Karena keterbatasan waktu sesi tadi pagi, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak sempat dibahas. Berikut diantaranya:

Gimana kalau pilihan jurusan kuliah antara yang saya mau dengan yang orang tua mau berbeda?

Memilih jurusan kuliah merupakan pergumulan tersendiri dan alangkah baiknya apabila keputusan tersebut dibicarakan bersama dengan orang tua. Oleh karena itu, apabila pilihan jurusan kita berbeda dengan orang tua, sebaiknya bicarakan hal ini dengan baik. Kita sebagai anak harus dapat memberikan gambaran kepada orang tua jurusan seperti apa yang kita inginkan, pekerjaan seperti apa yang nanti akan dikerjakan setelah lulus dan mungkin hingga gambaran gaji dsb. Buat orang tua mengerti dengan pilihan kita. Bawa sebanyak mungkin bahan diskusi, seperti artikel di internet, kurikulum jurusan yang kita inginkan dan prospek kerja. Patut kita pahami juga bahwa orang tua kita mungkin kurang mendapat informasi yang menyeluruh, terlebih apabila mereka melihat stereotipe atau pengalaman orang lain. Dengan membawa informasi sebanyak mungkin, orang tua jadi mengerti bahwa kita memang benar-benar serius untuk memilih jurusan tersebut. Prinsipnya, buat keputusan bersama sehingga kita dan orang tua mendapat gambaran yang sama dan dapat menanggung konsekuensinya bersama.

Ka, bagaimana melibatkan ortu dalam perencanaan yg baik untuk kuliah atau kerja? Krn usia sma ga lepas dari peran ortu, lebih atau kurangnya?

Kuncinya ada di komunikasi. Ngobrol-lah yang banyak. Bahas sedetail mungkin rencana yang mao kita lakukan. Pertimbangkan baik-baik pilihan yang akan dipilih, entah itu bekerja atau kuliah, atau mungkin bekerja sambil kuliah. Cari waktu bersama dengan orang tua untuk membicarakan hal tersebut. Kalau orang tua kita sibuk, mintalah waktu dan agendakan waktu bersama untuk membicarakan rencana setelah SMA.

Bagaimana membuat orang tua saya mengerti apa yang saya inginkan dalam pemilihan jurusan. Tapi ortu inginnya di jurusan yang sama sekali tidak ada talent disitu

Saya rasa ini sama dengan pertanyaan di atas. Membuat orang tua mengerti memerlukan waktu. So, make time. Berikan bukti yang menyeluruh, apabila kita merasa bahwa kita tidak ada talenta di jurusan yang orang tua mau, berikan bukti berupa tes talenta atau kepribadian atau mungkin prestasi di SMA selama ini. Most likely, tes dan rekam jejak prestasi tersebut dapat menggambarkan talenta yang kita punya.

Apakah jika saya berkuliah d luar negeri bisa mendapatkan kerja paruh waktu di dalam atau di luar kampus? Karena saya ingin mencari tambahan biaya kuliah

Pada prinsipnya, di luar negeri kita dapat kuliah sambil kerja. Namun yang perlu diperhatikan setiap negara memiliki undang-undang ketenagakerjaannya sendiri. Biasanya undang-undang itu membatasi jumlah jam per minggu untuk kita bekerja. Di Jepang misalnya, dulu saya mendapat limit sekitar 16 jam/minggu untuk dapat bekerja karena status/visa saya adalah visa mahasiswa. Pelajari peluang kerja sambil kuliah di luar negeri dan perhatikan hukum yang mengatur hal tersebut.

Bagaimana caranya agar dimasa sekolah bisa sukses bisnis online? misalnya tipsnya… terima kasih

Saya tidak punya bisnis online. Namun ada begitu banyak ilmu tentang bisnis online di luar sana. Just Google it. Bisa juga mempelajarinya di skillshare.com tentang bisnis online, sehingga dapat memperoleh gambaran tentang bisnis tersebut. Lebih konkrit lagi, jangan malu bertanya dengan mereka yang sudah sukses, tanya bagaimana mereka mengelola waktu, mengelola uang, mengelola bisnisnya dan mengelola pelanggan.

Bagaimana kalau kita suka dan berpassion di suatu jurusan, tapi secara kemampuan mungkin tidak terlalu handal di jurusan itu?

Di seminar saya membahas tentang “passion”. Tentang bahayanya hanya mengandalkan “passion”. Setiap kesuksesan butuh hal yang lebih dari “passion”, yakni disiplin dan kerja keras. Ada kalanya kita merasa bosan dan jenuh di bidang yang kita sukai, tapi mau tidak mau kita harus tetap maju. Passion is mislead, passion hanyalah modal awal sisanya membutuhkan disiplin dan kerja keras. Tentang kemampuan bisa dilatih dan dipelajari, asalkan kita mau belajar dan memiliki pikiran yang terbuka.

Apakah kuliah menentukan kesuksesan ??? berkali kali ada yg bilang HARUS kuliah tapi diri sendiri gatau mau jurusan apa krn gatau passion nya apa

Kuliah tidak menentukan kesuksesan. Jika bingung tentang jurusan dan “passion”, silahkan lakukan beberapa hal praktis berikut ini:

  1. Ambil tes talenta
  2. Ambil tes kepribadian dan tempramen seperti DISC dan MBTI. Just Google it
  3. Catat hal apa saja yang orang lain puji dari diri kita. Di situlah letak keunikan kita. Tentunya yang positif.
  4. Explore minat dan hobi yang selama ini kita lakukan.
  5. Tuliskan 3 (tiga) hal dimana saat kita melakukannya, kita sampai lupa waktu (tentunya hal yang positif dan bernilai ekonomi)

Dengan melakukan hal tersebut, seharusnya kita memiliki gambaran keunikan kita. Dari situ kita bisa mencari jurusan yang sesuai dengan keunikan kita, maka besar kemungkinan kita bisa enjoy di jurusan yang kita pilih.

Apkh pilihan jurusan kuliah lbh baik mengikuti keinginan diri sndiri atau memilih jurusan yg sdng ramai skrng & lbh bnyk dipakai dlm dunia pekrjaan skrg? Ex. IT

Mengambil jurusan menurut keinginan sendiri atau jurusan yang sedang ramai memiliki plus dan minus masing-masing. Apabila kita mengambil jurusan berdasarkan minat dan pilihan kita sendiri, maka kemungkinan besar kita akan enjoy di jurusan tersebut namun belum tentu bukan jurusan yang populer. Apabila kita mengambil yang sedang ramai tentu saja peluang kerja lebih besar, namun jangan lupa ada kemungkinan tidak sesuai dengan minat, talenta dan kepribadian yang kita miliki. Oleh karena itu, pikirkan baik-baik setiap skenarionya.

Ingin kuliah tapi sambil menghasilkan uang supaya bisa bayar kuliah sendiri. Ada ide?

Saat ini ada banyak peluang bisnis. Saat ini tidak perlu memiliki toko fisik, namun kita bisa berjualan secara online. Sekali lagi just Google it. Gunakan informasi di internet untuk mencari peluang kerja/bisnis. Pelajari kemudian pertimbangkan baik dan buruknya serta hitung resikonya.

Kak gimana caranya kita tau jurusan kita, sedangkan sekolah hampir semua pel harus dipelajari. Rata” nilai itu ga memuaskan

Ambil tes talenta, karunia rohani, tes kepribadian seperti DISC, tes tempramen seperti MBTI. Tanya orang di sekeliling tentang keunikan kita menurut pandangan mereka. Baca banyak informasi tentang jurusan yang kita minati. Dari informasi-informasi tersebut, kita bisa memperoleh gambaran adn mengerucutkan pilihan jurusan yang ingin kita ambil.

Gimana cara enjoy kuliah di jurusan DKV, yg tugasnya selalu membuat jam tidur dikit (3jam) ?

Menurut saya kita ga bisa enjoy 100% di kuliah jurusan manapun. Kita akan selalu menemui kesulitan, kurang tidur, tugas yang banyak, ujian yang susah dsb. Intinya nothing comes easy, kita harus mau berjuang. Anak yang gampangan tidak akan menjadi anak yang tangguh. So, work hard !

gimana caranya mengelola waktu utk hidup sehat disaat kita memilih kuliah sambil kerja sedangkan waktu tidur pasti terganggu?

Jaga istirahat, jaga makan, jaga tidur. Sedapat mungkin cari pekerjaan yang jam kerjanya tidak berganti (shift malam/siang). Dengan demikian jam biologis tubuh kita bisa konsisten. Pelajari banyak cara untuk menjadi efektif dan efisien sehingga waktu sisa dapat kita gunakan untuk refreshing atau beristirahat. Jaga makanan, kalau bisa makan dengan makanan rumah dan tidak makan sembarangan. Ingat bahwa kesehatan merupakan modal terbesar kita untuk bekerja.

Setelah SMA, kuliah atau kerja?

Pada Sabtu, 12 Januari 2019 saya akan berbagi tentang topik “Business vs College” kepada siswa dan siswi SMAK Gamaliel, Bandung. Sambil mempersiapkan sesi tersebut, saya mencoba menuliskan pemikiran saya di sini.

Semester genap tahun ajaran 2018/2019 telah dimulai dan bagi siswa-siswi SMU, ini adalah semester terakhir mereka di bangku SMA. Nah, menjelang persiapan ujian nasional, tentu siswa-siswi SMU ini sudah memikirkan mau ke mana setelah mereka lulus SMU. Setidaknya ada dua pilihan yang menjadi pertimbangan, yakni melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah atau langsung bekerja. Masing-masing pilihan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Menurut saya, apapun yang dipilih asalkan dikelola dengan baik maka pilihan manapun akan membawa manfaat.

Plus dan minus kuliah

Apabila seorang lulusan SMA memutuskan untuk kuliah, maka tentu ia harus mempersiapkan biayanya dan tentu biaya tersebut dikeluarkan oleh orang tua (atau keluarga lainnya). Kuliah juga merupakan pendidikan formal dengan hasil akhir tertulis berupa ijasah. Ijasah kurang lebih menggambarkan kemampuan seseorang yang dapat ia gunakan untuk melamar pekerjaan.

Kuliah juga membuat seseorang masih tergantung kepada orang lain, dalam hal ini kepada keluarga yang membiayai. Ia memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan perkuliahannya. Kuliah juga berarti menambah waktu untuk belajar (4-7 tahun maksimal) sebelum seseorang dapat bekerja dan mulai menghasilkan uang, namun tentu standar pendapatan seorang lulusa sarjana/diploma lebih baik daripada seseorang lulusan SMA.

Berkuliah juga berarti akses lebih terhadap pendidikan tinggi, dalam hal ini pengajaran dari dosen, dapat mengikuti kegiatan akademik yang dapat memperkaya pengetahuan, memliki referensi atau buku rujukan dan berada dalam lingkungan akademik yang dapat menstimulus kekayaan intelektual seseorang.

Mengenai karir, seorang lulusan sarjana atau diploma memiliki jenjang karir yang lebih jelas. Jenjang karir tersebut relevan apabila seseorang bekerja di suatu perusahaan dan memegang ijasah sarjana atau diploma menjadi batu pijakan awal pada jenjang karir tersebut.

Plus dan minus bekerja

Biasanya, seseorang memutuskan untuk bekerja setelah lulus SMA adalah karena faktor biaya. Kuliah memerlukan biaya yang besar sehingga wajar apabila seseorang memutuskan untuk langsung bekerja. Langsung bekerja juga berarti seseorang dapat langsung menghasilkan uang untuk kehidupannya atau membantu perekonomian keluarga.

Perlu disadari bahwa apabila seseorang yang memutuskan untuk langsung bekerja apabila ia bekerja kepada orang lain maka tingkat penghasilannya akan berada di bawah mereka yang lulusan sarjana atau diploma. Jenjang karir juga tentu berbeda. Maka menurut saya, seseorang yang memutuskan untuk langsung bekerja setelah SMA harus berorientasi wirausaha (memiliki usaha sendiri).

Mengenai pengetahuan, menurut saya sekarang pengetahuan sudah bukan menjadi privilege mereka yang memiliki biaya untuk kuliah. Pengetahuan saat ini sudah menjadi komoditas, yang artinya mudah untuk didapat. Saat ini, seseorang hanya perlu menggunakan internet untuk memperoleh pengetahuan. Ada banyak materi perkuliahan yang saat ini dapat diperoleh dengan gratis. Sebut saja ocw.mit.edu yang berisi materi dan video kuliah dari MIT atau coursera.org atau skillshare.com. Banyak orang di luar sana yang dengan murah hati berbagi pengetahuan dan dapat dimanfaatkan bagi mereka yang mau belajar.

Langsung bekerja juga berarti semakin cepat seseorang berinteraksi dan memiliki pengalaman dengan dunia “nyata”. Misalnya saja seseorang yang berkuliah tentang marketing atau bisnis mendapat pengetahuan formal namun tentu pengalaman belajarnya akan berbeda dengan mereka yang langsung berhubungan dengan pelanggan dan mengelola bisnis. Hal ini menjadi poin plus seseorang yang bekerja.

Kesempatan berkarya dan berusaha saat ini juga semakin terbuka. Seseorang dengan mudah dapat membuka toko online tanpa harus memiliki toko fisik. Dapat menjadi artis media sosial dengan mudah atau menjadi seorang youtuber. Kesempatan dan peluang tersebut dapat dimanfaatkan bagi mereka yang memutuskan untuk langsung bekerja setelah SMA.

Some further thinking

Di atas telah saya uraikan mengenai plus dan minus seseorang kuliah atau langsung bekerja. Pada sesi esok hari juga saya akan coba berbagi pemikiran sebagai berikut:

  1. Seseorang yang kuliah bukan berarti lebih berpendidikan dari mereka yang langsung bekerja. Menurut saya pendidikan itu bukan hanya tentang konten pengetahuan namun keinginan seseorang untuk belajar.
  2. Belajar bukan hanya di bangku kuliah. Seseorang yang ingin belajar dapat belajar dimanapun ia berada. Terlebih di zaman informasi saat ini, dimana pengetahuan sudah menjadi komoditas.
  3. Seseorang yang berkuliah bukan berarti akan memiliki sikap atau attitude yang lebih baik dari mereka yang tidak berkuliah. Sikap seringkali tidak berbanding lurus dengan tingginya pendidikan seseorang.
  4. Pernyataan: “Mereka yang tidak berkuliah (atau drop out) juga bisa sukses, sebut saja Steve Jobs, Bill Gates dll” bukanlah pernyataan yang valid untuk membenarkan seseorang tidak mau kuliah. Betul bahwa untuk sukses tidak perlu kuliah namun tidak bijak apabila kita menjadikan hal tersebut sebagai pembenaran.
  5. Pilihan kuliah atau kerja adalah tentang bagaimana seseorang mengelolanya sedemikian hingga membawa manfaat. Kita tidak bisa mengatur apa yang menimpa hidup kita, kita juga tidak bisa memilih di keluarga seperti apa kita dilahirkan. Yang bisa kita lakukan adalah mengelola apa yang sudah Tuhan berikan. Seseorang yang memiliki kesempatan untuk kuliah namun jika ia tidak bisa mengelolanya tentu akan menjadi sia-sia dan hanya sekedar membuang-buang uang. Di sisi lain, apabila seseorang yang langsung bekerja namun dapat mengelolanya dengan baik, ia akan menjadi orang yang sukses.

Pemikiran di atas hanyalah pemikiran pribadi yang bisa saya berikan. Pemikiran yang timbul karena saya diminta untuk membawakan sesi tentang topik “kuliah atau kerja”. Saya sendiri diberikan anugrah oleh Tuhan untuk dapat memperoleh pendidikan tinggi. Namun saya juga melihat orang lain yang tidak memiliki kesempatan berkuliah seperti saya menjadi orang yang sukses. Semuanya tergantung dari bagaimana kita mengelola apa yang Tuhan berikan.

Catatan: pada sesi tersebut ada beberapa hal yang bahas namun tidak dituliskan pada posting ini, antara lain:

  1. Kemungkinan untuk bekerja sambil kuliah
  2. Nekat untuk kuliah berbekal mencari beasiswa dan sambil bekerja
  3. Tips and trick belajar otodidak dan menghasilkan uang (berdasarkan apa yang saya tahu namun saya belum pernah melakukannya)

Slide sesi dapat diunduh di sini.

4 tips memulai semester baru

Semester genap 2018/2019 akan segera dimulai. Semester yang baru seharusnya membawa optimisme baru. Di tulisan ini, saya hendak berbagi 4 tips untuk memulai semester baru bagi mahasiswa.

Bersiap-siap sejak perwalian semester

Be mentally prepared

Mempersiapkan diri sebelum perkuliahan dimulai merupakan hal yang amat penting. Banyak mahasiswa yang berpikir bahwa “semester” itu dimulai pada hari pertama masa kuliah, padahal sebetulnya hari pertama tersebut adalah permulaan “perkuliahan” atau tatap muka di kelas.

“Semester” itu harus dipersiapkan sebelum masa perkuliahan dimulai, dan waktu yang paling tepat adalah setelah mahasiswa melakukan perwalian. Ketika perwalian, mahasiswa sudah memperoleh kepastian jumlah SKS dan mata kuliah yang akan ia ambil. Dari informasi mata kuliah ini, mahasiswa sudah bisa melihat silabus yang tersedia di buku petunjuk akademik atau di website jurusan. Dan dari silabus tersebut, mahasiswa bisa memperoleh informasi tentang bahasan mata kuliah, model kuliah (hanya kuliah dan ujian, praktikum atau ada project akhir misalnya) serta buku teks rujukan. Mahasiswa juga bisa memperoleh informasi tambahan lewat internet. Intinya gunakan waktu setelah perwalian untuk mencari informasi sebanyak mungkin tentang mata kuliah yang telah diambil.

Dengan demikian, mahasiswa bisa memperoleh gambaran mental tentang semester yang akan ia jalani. Gambaran mental ini sangat penting untuk diperoleh mahasiswa sebelum perkuliahan dimulai. Seseorang akan lebih siap apabila ia memperoleh gambaran mental tentang hal yang akan ia jalani. Analoginya, apabila kita akan melakukan perjalanan jauh ke luar kota dan kita tahu kemana tujuan tersebut serta kondisi jalan seperti apa yang akan kita lalui, tentu kita bisa menyiapkan fisik dan mental serta membawa persiapan yang diperlukan. So, just take few readings about your courses, browse the internet then you will have mental image about your upcoming semester period.

Merancang jadwal belajar

For productive activities: If you don’t schedule it, you will never do it

Tips yang kedua adalah merancang jadwal belajar dan ideal untuk dilakukan sesaat setelah mahasiswa sudah memperoleh jadwal kuliah. Banyak mahasiswa yang berpikir bahwa jadwal belajar mereka hanya ketika tatap muka di kelas, padahal definisi 1 SKS adalah 1 jam tatap muka, 1 jam berlatih soal atau mengerjakan tugas dan 1 jam belajar mandiri. Buatlah jadwal belajar misalnya untuk mengulang bahan kuliah, berlatih soal dan mengerjakan PR atau tugas pendahuluan praktikum. Selain itu belajar untuk memanfaatkan waktu kosong antar kuliah. Waktu kosong tersebut dapat kita gunakan untuk istirahat (pulang ke rumah atau kost), bersosialisasi, kegiatan organisasi atau belajar.

Intinya untuk hal yang produktif, apabila kita tidak menjadwalkannya maka most likely kita tidak akan pernah melakukannya. Dan kalau kita tidak menjadwalkannya, maka kegiatan yang tidak membawa manfaat akan masuk ke jadwal kita seperti waktu hang out yang berlebihan, terlalu sibuk di organisasi, bermain game dsb.

Menyiapkan perlengkapan kuliah

Gear up !

Saya banyak menemui mahasiswa yang tidak siap dari segi perlengkapan kuliah. Mereka datang ke kelas tanpa ada kertas/buku untuk mencatat, tidak memiliki alat tulis hingga akhirnya pinjam sana sini. Rasanya bukan karena mereka tidak mampu membeli, namun karena mereka pikir hal tersebut tidak penting. Perlengkapan dasar seperti buku atau loose leaf, pulpen, pensil, stok kertas A4 untuk membuat tugas, tipp-ex dsb adalah hal yang penting namun jarang diperhatikan. Seringkali saya melihat mahasiswa yang mencatat di secarik kertas, kemudian tidak disimpan dengan rapih lalu kemudian catatan tersebut sulit untuk dicari apabila diperlukan. Ada juga mahasiswa yang karena tidak memiliki stok kertas A4 untuk tugas, sehingga harus membuang waktu mencari kertas ketika harus membuat tugas. Menyiapkan perlengkapan kuliah memang terlihat remeh, namun bukankah seringkali kita tersandung karena hal-hal yang remeh?

Resolusi semester baru: tidak lagi datang terlambat ke kelas

Coming late is disrespectful

Kalau ada satu resolusi bagi mahasiswa di tahun 2019 atau di semester yang baru, saya anjurkan cukup latih diri untuk melakukan satu hal yakni tidak lagi datang terlambat ke kelas. Datang terlambat merupakan perilaku yang tidak menaruh hormat pada orang lain, kita harus belajar untuk menghargai waktu orang lain sehingga orang lain juga dapat menghargai waktu kita.

Seringkali saya heran melihat mahasiswa yang hobinya datang terlambat, apalagi yang dengan sengaja datang terlambat. Mahasiswa tersebut dengan santainya masuk kelas yang sudah dimulai kemudian duduk dengan membuat gaduh sehingga mengganggu orang lain. Mahasiswa tersebut kemudian kebingungan dengan melihat papan tulis yang sudah mulai penuh terisi dengan catatan kuliah atau melihat slideshow dosen yang sudah masuk di pertengahan. Ia kemudian memilih untuk tidak mencatat karena bingung harus mulai mencatat dari mana. And then he/she just missed the entire class.

Kebiasaan tersebut dilakukan terus menerus hingga akhirnya ia sama sekali tidak mengerti konten perkuliahan, semuanya itu dimulai dari satu tindakan yang ia pilih yakni datang terlambat ke kelas. Bayangkan apabila mahasiswa tersebut memilih untuk datang tidak telambat, bahkan sebelum kelas dimulai. Ia dapat mempersiapkan catatan dan alat tulis untuk mencatat, sekedar membaca bahan kuliah di pertemuan selanjutnya sehingga ia siap secara mental sebelum kuliah dimulai. Cobalah lakukan kebiasaan sederhana dengan tidak datang terlambat ke kelas kemudian mempersiapkan diri secara mental sebelum kelas dimulai dan lihat hasilnya di akhir semester. If you do it correctly, I think you will start to see a progress.

Kalau kita perhatikan, keempat tips ini berpusat pada ide yang sama yakni “melakukan persiapan”: bersiap sejak perwalian, menyiapkan jadwal belajar, menyiapkan perlengkapan kuliah dan mempersiapkan mengikuti kuliah dengan tidak datang terlambat. Benjamin Franklin pernah berkata: “By failing to prepare, you are preparing to fail”. Dengan melakukan persiapan, kita akan lebih siap untuk menghadapi semester yang baru. Semoga tips sederhana ini dapat membantu menjalani semester yang baru.

Tiga Resolusi Sederhana yang Mempermudah Hidup Orang Lain

Kindness is shown by simple acts

Tahun baru identik dengan “resolusi”. Resolusi bisa berarti suatu pencapaian yang ingin kita peroleh atau kebiasaan baru yang ingin kita lakukan secara konsisten di tahun yang baru. Resolusi juga lebih banyak bersifat pribadi, jarang kita mendengar seseorang membuat resolusi yang berkaitan dengan orang lain terlebih dengan orang yang tidak dikenal.

Di tulisan awal tahun 2019 ini, saya ingin berbagi tiga resolusi (lebih tepatnya kebiasaan) yang berhubungan dengan orang lain di tempat umum. Tujuannya sederhana, saya ingin mempermudah kehidupan orang lain.

  1. Membersihkan bekas makanan atau minuman di restoran/cafe
    Saya belajar kebiasaan ini ketika saya sekolah di Jepang dulu. Di sana saya belajar bahwa adalah kewajiban kita untuk membersihkan bekas makanan atau minuman di restoran cepat saji (fast food). Salah satu ciri restoran cepat saji adalah kita harus memesan makanan di counter kemudian membawa makanan itu ke meja, bukan kita yang dilayani oleh pramusaji yang datang ke meja. Nah, sebetulnya adalah kewajiban kita untuk membersihkan bekas makanan atau minuman, bukan meninggalkannya di meja. Ciri lainnya dari restoran cepat saji adalah adanya kotak sampah di mana kita harus membuang sisa dan bungkus makanan kemudian menyimpan baki pada tempatnya. Banyak orang tidak mengerti akan hal ini. Dan apabila kita perhatikan, struk pembayaran dari restoran cepat saji tidak ada tarif untuk “service“, struk hanya mencatumkan harga total dan pajak restoran 10%. Why? Because it’s not their job to clean up our mess, we take the food and we are supposed to clean it up. Nah, kebiasaan itu sudah saya lakukan sejak tahun 2011, sejak saya pulang dari negeri sakura. Nah, di tahun ini saya ingin “memperluas” kebiasaan tersebut dengan menerapkannya di restoran non cepat saji. Di restoran seperti ini memang ada tarif service (biasanya 5%), namun saya ingin mempermudah pekerjaan pramusaji dengan mengumpulkan bekas makanan dan minuman pada satu spot/lokasi serta mengelompokan dan merapihkan peralatan makan (sendok, garpu, sumpit, mangkok, piring dsb). Terkadang kalau ada tumpahan air, saya juga membersihkannya dengan tissue. That’s the least I can do. Saya memang belum pernah bekerja di restoran, but I think the waiters work really hard on their day job. Let’s make their job easier.
  2. Membersihkan bekas makanan/minuman di bioskop
    Hari ini saya nonton Bumblebee di salah satu bioskop di Bandung (by the way it’s a good movie: heroic and emotional). Saya nonton pukul 18:30 dan saya perhatikan film sebelumnya di studio yang sama baru selesai pukul 18:20. Jadi, para petugas kebersihan hanya memiliki waktu 10 menit untuk membersihkan studio tersebut. Dan by the way, it’s the biggest studio of the theater. Saya jadi terbayang betapa repot dan lelahnya para petugas kebersihan tersebut ketika mereka membersihkan bekas popcorn, minuman bersoda yang ditinggal di kursi; belum lagi apabila ada yang tumpah dan mereka harus membersihkan di sela-sela kursi bioskop. Saya pikir apabila semua penonton membersihkan bekas makanan dan minumannya sendiri, pekerjaan petugas kebersihan tersebut bisa lebih ringan. Sekali lagi, those garbage are our mess and why should them who clean it up? Some people have enough money to afford the movie tickets and snacks, but they don’t have the manner! So, mari mulai kebiasaan yang bermartabat di bioskop dengan membersihkan bekas makanan dan minuman ketika meninggalkan studio. I think that’s not really hard to do.
  3. Membukakan pintu folding apabila ada orang di belakang
    Pintu folding adalah pintu yang biasanya ada tulisan “tarik” dan “dorong”, pintu ini biasanya terbuat dari kaca, agak berat untuk dibuka dan banyak dijumpai di tempat umum seperti bank dan mini market. Satu kebiasaan yang baik adalah ketika kita masuk atau keluar dari suatu tempat dengan pintu folding, kita sejenak melihat ke belakang dan apabila ada orang yang juga hendak masuk atau keluar kita menahan pintu folding tersebut. Kebiasaan ini saya pelajari ketika sekolah di Perancis, orang Perancis memiliki kebiasaan yang baik tersebut. Mereka dengan refleks melihat ke belakang setiap kali mereka masuk melalui pintu folding. Menurut saya ini suatu kebiasaan yang baik. Ada kemungkinan orang di belakang kita membawa banyak barang, membawa anak kecil atau seseorang dengan usia lanjut. Dengan semudah menahan pintu folding, rasanya kita sudah mempermudah hidup mereka. It’s just a simple manner that make life easier for others.

Tiga resolusi atau kebiasaan di atas memang tidak memiliki manfaat untuk kita. Bahkan mungkin apabila kita lakukan untuk pertama kali, kita akan merasa canggung. But, it is the right thing to do. Menurut saya, manner atau sopan santun bukanlah tentang kita, tapi tentang melakukan hal yang benar untuk orang lain, untuk lingkungan sosial yang lebih baik. Kita juga tidak mendapat manfaat secara langsung tapi justru membawa manfaat bagi orang lain. Menyebar kebaikan dan membuat perbedaan positif terkadang tidak melulu tentang hal yang besar namun justru tentang hal yang kecil, tindakan sederhana yang membawa manfaat dan mempermudah hidup orang lain.