5 Tips Mengerjakan Tugas Akhir

Sesuai dengan namanya, tugas akhir/skripsi merupakan tugas paling akhir yang harus dikerjakan oleh seorang mahasiswa sarjana. Bagi kita yang suka maen game, bisa dikatakan juga bahwa mengerjakan tugas akhir itu merupakan “final boss” dari “game sarjana” dimana mahasiswa merupakan tokoh utamanya.

Tugas akhir seharusnya dipandang sebagai “pinnacle” (the most successful point) dari karya seorang mahasiswa. Tugas akhir merupakan medan pertempuran dimana mahasiswa menggunakan seluruh pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama masa studi di universitas. Tugas akhir juga seharusnya menjadi kebanggaan dari seorang mahasiswa ketika ia menyelesaikan program sarjananya.

Namun seringkali yang saya temui adalah tugas akhir menjadi “bottleneck” atau penghambat seorang mahasiswa untuk lulus program sarjana. Tugas akhir juga malah menjadi sumber stress yang cukup tinggi di kalangan mahasiswa tingkat akhir.

Saya rasa salah satu penyebab dari hal tersebut adalah aspek kemandirian yang ada pada tugas akhir. Seorang mahasiswa mengerjakan tugas akhir secara individu berbeda ketika ia berkuliah atau mengerjakan tugas. Selain itu, proses tugas akhir yang cukup panjang, mulai dari penelitian awal, mencari referensi, proses bimbingan hingga proses menulis dan revisi yang sangat melelahkan dan malah menjadi sumber stress bagi mahasiswa.

Agar tidak menjadi “bottle neck“, maka proses pengerjaan tugas akhir harus dikelola dengan baik. Cara mengelola pengerjaan tugas akhir ini yang menurut saya kurang diajarkan kepada mahasiswa. Menurut saya, pengelolaan ini sangatlah penting dan dapat menjadi faktor pembeda antara seorang mahasiswa yang berhasil mengerjakan tugas akhir dan yang tidak. So,di sini saya coba berbagi beberapa tips dalam mengelola pengerjaan tugas akhir dan beberapa diantaranya merupakan pengalaman pribadi.

  1. Mulai dengan mindset bahwa:Final Project is supposed to be hard and challenging(Tugas akhir itu sudah saharusnya sulit dan menantang). Kalau tugas akhir mudah, ya tentu namanya bukan tugas akhir. Tugas akhir memang seharusnya sulit dan memaksa kita untuk belajar dan bekerja lebih keras. Kita harus melihat tugas akhir sebagai sesuatu tantangan. Sesuatu yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu dengan kualitas terbaik. Dan pada prakteknya, sedikit banyak mahasiswa akan diperhadapkan dengan banyak pengetahuan yang belum pernah ia pelajari semasa kuliah. Ketika saya dulu memulai tugas akhir, saya menggunakan metode elemen hingga (finite element) yang sama sekali belum pernah dipelajari semasa saya kuliah. Namun, saya tetap harus belajar metode tersebut berbekal pengetahuan yang saya pelajari semasa kuliah. Denganmindset ini, kita menjadi siap secara mental ketika menghadapi kesulitan saat mengerjaka tugas akhir (dan by the way, kita pasti menghadapi kesulitan). In final project difficulties is inevitable.  
  2. Punya buku catatan tugas akhir. Saya sarankan untuk memiliki buku catatan tugas akhir. Buku di sini dalam arti buku fisik, yang ditulis dengan puplen/pensil, bukan dalam bentuk digital. Dengan buku fisik, kita dapat menulis dan menggambar desain/ide dengan lebih leluasa. Kita dapat membuat sketsa/diagram alir dengan lebih bebas. KIta juga dapat mencatat data dan parameter eksperimen pada buku tersebut. Selain itu, kita dapat mencatat masukan dari dosen pembimbing pada buku tersebut. Menurut saya manfaat terbesar adalah buku tugas akhir dapat memberikan sense of progress. Dengan begitu kita dapat bersyukur untuk progressyang kita lalui dan memberikan motivasi kepada kita untuk menyelesaikan tugas akhir.
  3. Mulailah menulis. Menulis tugas akhir dalam bentuk buku tidaklah harus menunggu hingga penelitian selesai. Prinsip saya: write what you can write. Contoh: bab dasar teori tidaklah harus ditulis nanti pada saat penelitian rampung. Kita dapat dengan segera menulis dasar teori yang berasal dari buku rujukan. Contoh lainnya adalah saat menulis referensi (biasanya di bab pendahuluan) yang dapat segera kita tulis setelah mendapatkan referensi yang relevan. Lalu bagaimana apabila kita tidak memerlukan semua referensi/dasar teori? Kita dapat mengeliminasi yang tidak kita gunakan nanti saat mengkompilasi tugas akhir. Poinnya adalah kita dapat belajar menyampaikan gagasan secara tertulis. Dan apabila kita ingin memiliki tulisan yang baik, tentu kita harus belajar menulis. So, start writing.
  4. Miliki teman diskusi. My definition of “friend”: the person who can keep my insanity. Ketika saya dulu mengerjakan tugas akhir (dan tesis serta disertasi), saya seringkali mengalami stress yang berkepanjangan. Ketika itu, hal yang paling tidak mengenakan adalah ketika stress sendirian dan kemudian saya terjebak untuk menutup diri dari orang lain. It was a painful process. Tidak betah dalam kondisi seperti itu, saya lalu belajar untuk berdiskusi tugas akhir dengan teman. Teman tersebut mungkin tidak mengerti banyak tentang topik yang sedang saya kerjakan, namun seringkali masukan sederhana dan polos yang ia berikan kepada saya justru yang berhasil.Sometimes we overcomplicate things and we need some simple solution. Selain memberi masukan, mereka (terutama yang senasib dan sepenanggungan) dapat menjadi teman hangout. Terkadang kita butuh “melarikan diri” sejenak dari mumetnya tugas akhir. Dan terkadang saat “melarikan diri” itulah kita mendapat ide brilian untuk memecahkan persoalan tugas akhir.
  5. Jangan “kabur” dari dosen pembimbing dan pertemuan rutin bimbingan.You just have to show up, even there is no progress. Satu hal yang saya salah mengerti ketika dulu mengerjakan tugas akhir adalah saya berpikir bahwa saya harus membawa progress/hasil ketika bimbingan; dan kalau saya tidak membawa hasil saya tidak “layak” untuk menghadap dosen pembimbing. Well, it is totally wrong.Saya rasa tiap proses (bukan progress) harus kita laporkan sebagai bentuk akuntabilitas dan apabila kita “mentok”, kita dapat bercerita kendala yang kita temui. Kesalahan yang sering saya lihat adalah mahasiswa justru menjadi “buronan” or “most wanted”, yang terus menghindar apabila akan ketemu dosen pembimbing. Sekali kita melarikan diri, sangat sulit untuk melakukan bimbingan; kita akan terjebak pada behavioryang terus menghindar dan pada akhirnya tugas akhir menjadi terbengkalai.The truth is, I’ve been there. Dulu sewaktu mengerjakan tugas akhir sarjana, saya sempat “menghilang” dari peredaran di kampus selama 6 bulan. Awalnya saya enggan bimbingan karena tidak ada progress. Satu kali skip, berlanjut ke skip yang selanjutnya dan tanpa sadar, saya sudah menghilang selama 6 bulan. Sungguh sulit untuk kembali pada track ketika itu, dan pulih dari perasaan “malu” ketika bertemu dosen pembimbing. Saya lalu memulai kembali pengerjaan tugas akhir dengan langkah sederhana, yaitu menghadap dosen pembimbing dengan “progressseadanya”, sejak itu momentum dimulai dan semangat saya pulih kembali. So, just show up and start the momentum.

Sesuai dengan namanya, tugas akhir/skripsi merupakan tugas paling akhir yang harus dikerjakan oleh seorang mahasiswa sarjana. Bagi kita yang suka maen game, bisa dikatakan juga bahwa mengerjakan tugas akhir itu merupakan “final boss” dari “game sarjana” dimana mahasiswa merupakan tokoh utamanya.

Tugas akhir seharusnya dipandang sebagai “pinnacle” (the most successful point) dari karya seorang mahasiswa. Tugas akhir merupakan medan pertempuran dimana mahasiswa menggunakan seluruh pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama masa studi di universitas. Tugas akhir juga seharusnya menjadi kebanggaan dari seorang mahasiswa ketika ia menyelesaikan program sarjananya.

Namun seringkali yang saya temui adalah tugas akhir menjadi “bottleneck” atau penghambat seorang mahasiswa untuk lulus program sarjana. Tugas akhir juga malah menjadi sumber stress yang cukup tinggi di kalangan mahasiswa tingkat akhir.

Saya rasa salah satu penyebab dari hal tersebut adalah aspek kemandirian yang ada pada tugas akhir. Seorang mahasiswa mengerjakan tugas akhir secara individu berbeda ketika ia berkuliah atau mengerjakan tugas. Selain itu, proses tugas akhir yang cukup panjang, mulai dari penelitian awal, mencari referensi, proses bimbingan hingga proses menulis dan revisi yang sangat melelahkan dan malah menjadi sumber stress bagi mahasiswa.

Agar tidak menjadi “bottle neck“, maka proses pengerjaan tugas akhir harus dikelola dengan baik. Cara mengelola pengerjaan tugas akhir ini yang menurut saya kurang diajarkan kepada mahasiswa. Menurut saya, pengelolaan ini sangatlah penting dan dapat menjadi faktor pembeda antara seorang mahasiswa yang berhasil mengerjakan tugas akhir dan yang tidak. So,di sini saya coba berbagi beberapa tips dalam mengelola pengerjaan tugas akhir dan beberapa diantaranya merupakan pengalaman pribadi.

  1. Mulai dengan mindset bahwa:Final Project is supposed to be hard and challenging(Tugas akhir itu sudah saharusnya sulit dan menantang). Kalau tugas akhir mudah, ya tentu namanya bukan tugas akhir. Tugas akhir memang seharusnya sulit dan memaksa kita untuk belajar dan bekerja lebih keras. Kita harus melihat tugas akhir sebagai sesuatu tantangan. Sesuatu yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu dengan kualitas terbaik. Dan pada prakteknya, sedikit banyak mahasiswa akan diperhadapkan dengan banyak pengetahuan yang belum pernah ia pelajari semasa kuliah. Ketika saya dulu memulai tugas akhir, saya menggunakan metode elemen hingga (finite element) yang sama sekali belum pernah dipelajari semasa saya kuliah. Namun, saya tetap harus belajar metode tersebut berbekal pengetahuan yang saya pelajari semasa kuliah. Denganmindset ini, kita menjadi siap secara mental ketika menghadapi kesulitan saat mengerjaka tugas akhir (dan by the way, kita pasti menghadapi kesulitan). In final project difficulties is inevitable.  
  2. Punya buku catatan tugas akhir. Saya sarankan untuk memiliki buku catatan tugas akhir. Buku di sini dalam arti buku fisik, yang ditulis dengan puplen/pensil, bukan dalam bentuk digital. Dengan buku fisik, kita dapat menulis dan menggambar desain/ide dengan lebih leluasa. Kita dapat membuat sketsa/diagram alir dengan lebih bebas. KIta juga dapat mencatat data dan parameter eksperimen pada buku tersebut. Selain itu, kita dapat mencatat masukan dari dosen pembimbing pada buku tersebut. Menurut saya manfaat terbesar adalah buku tugas akhir dapat memberikan sense of progress. Dengan begitu kita dapat bersyukur untuk progressyang kita lalui dan memberikan motivasi kepada kita untuk menyelesaikan tugas akhir.
  3. Mulailah menulis. Menulis tugas akhir dalam bentuk buku tidaklah harus menunggu hingga penelitian selesai. Prinsip saya: write what you can write. Contoh: bab dasar teori tidaklah harus ditulis nanti pada saat penelitian rampung. Kita dapat dengan segera menulis dasar teori yang berasal dari buku rujukan. Contoh lainnya adalah saat menulis referensi (biasanya di bab pendahuluan) yang dapat segera kita tulis setelah mendapatkan referensi yang relevan. Lalu bagaimana apabila kita tidak memerlukan semua referensi/dasar teori? Kita dapat mengeliminasi yang tidak kita gunakan nanti saat mengkompilasi tugas akhir. Poinnya adalah kita dapat belajar menyampaikan gagasan secara tertulis. Dan apabila kita ingin memiliki tulisan yang baik, tentu kita harus belajar menulis. So, start writing.
  4. Miliki teman diskusi. My definition of “friend”: the person who can keep my insanity. Ketika saya dulu mengerjakan tugas akhir (dan tesis serta disertasi), saya seringkali mengalami stress yang berkepanjangan. Ketika itu, hal yang paling tidak mengenakan adalah ketika stress sendirian dan kemudian saya terjebak untuk menutup diri dari orang lain. It was a painful process. Tidak betah dalam kondisi seperti itu, saya lalu belajar untuk berdiskusi tugas akhir dengan teman. Teman tersebut mungkin tidak mengerti banyak tentang topik yang sedang saya kerjakan, namun seringkali masukan sederhana dan polos yang ia berikan kepada saya justru yang berhasil.Sometimes we overcomplicate things and we need some simple solution. Selain memberi masukan, mereka (terutama yang senasib dan sepenanggungan) dapat menjadi teman hangout. Terkadang kita butuh “melarikan diri” sejenak dari mumetnya tugas akhir. Dan terkadang saat “melarikan diri” itulah kita mendapat ide brilian untuk memecahkan persoalan tugas akhir.
  5. Jangan “kabur” dari dosen pembimbing dan pertemuan rutin bimbingan.You just have to show up, even there is no progress. Satu hal yang saya salah mengerti ketika dulu mengerjakan tugas akhir adalah saya berpikir bahwa saya harus membawa progress/hasil ketika bimbingan; dan kalau saya tidak membawa hasil saya tidak “layak” untuk menghadap dosen pembimbing. Well, it is totally wrong.Saya rasa tiap proses (bukan progress) harus kita laporkan sebagai bentuk akuntabilitas dan apabila kita “mentok”, kita dapat bercerita kendala yang kita temui. Kesalahan yang sering saya lihat adalah mahasiswa justru menjadi “buronan” or “most wanted”, yang terus menghindar apabila akan ketemu dosen pembimbing. Sekali kita melarikan diri, sangat sulit untuk melakukan bimbingan; kita akan terjebak pada behavioryang terus menghindar dan pada akhirnya tugas akhir menjadi terbengkalai.The truth is, I’ve been there. Dulu sewaktu mengerjakan tugas akhir sarjana, saya sempat “menghilang” dari peredaran di kampus selama 6 bulan. Awalnya saya enggan bimbingan karena tidak ada progress. Satu kali skip, berlanjut ke skip yang selanjutnya dan tanpa sadar, saya sudah menghilang selama 6 bulan. Sungguh sulit untuk kembali pada track ketika itu, dan pulih dari perasaan “malu” ketika bertemu dosen pembimbing. Saya lalu memulai kembali pengerjaan tugas akhir dengan langkah sederhana, yaitu menghadap dosen pembimbing dengan “progressseadanya”, sejak itu momentum dimulai dan semangat saya pulih kembali. So, just show up and start the momentum.

Sesuai dengan namanya, tugas akhir/skripsi merupakan tugas paling akhir yang harus dikerjakan oleh seorang mahasiswa sarjana. Bagi kita yang suka maen game, bisa dikatakan juga bahwa mengerjakan tugas akhir itu merupakan “final boss” dari “game sarjana” dimana mahasiswa merupakan tokoh utamanya.

Tugas akhir seharusnya dipandang sebagai “pinnacle” (the most successful point) dari karya seorang mahasiswa. Tugas akhir merupakan medan pertempuran dimana mahasiswa menggunakan seluruh pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama masa studi di universitas. Tugas akhir juga seharusnya menjadi kebanggaan dari seorang mahasiswa ketika ia menyelesaikan program sarjananya.

Namun seringkali yang saya temui adalah tugas akhir menjadi “bottleneck” atau penghambat seorang mahasiswa untuk lulus program sarjana. Tugas akhir juga malah menjadi sumber stress yang cukup tinggi di kalangan mahasiswa tingkat akhir.

Saya rasa salah satu penyebab dari hal tersebut adalah aspek kemandirian yang ada pada tugas akhir. Seorang mahasiswa mengerjakan tugas akhir secara individu berbeda ketika ia berkuliah atau mengerjakan tugas. Selain itu, proses tugas akhir yang cukup panjang, mulai dari penelitian awal, mencari referensi, proses bimbingan hingga proses menulis dan revisi yang sangat melelahkan dan malah menjadi sumber stress bagi mahasiswa.

Agar tidak menjadi “bottle neck“, maka proses pengerjaan tugas akhir harus dikelola dengan baik. Cara mengelola pengerjaan tugas akhir ini yang menurut saya kurang diajarkan kepada mahasiswa. Menurut saya, pengelolaan ini sangatlah penting dan dapat menjadi faktor pembeda antara seorang mahasiswa yang berhasil mengerjakan tugas akhir dan yang tidak. So, di sini saya coba berbagi beberapa tips dalam mengelola pengerjaan tugas akhir dan beberapa diantaranya merupakan pengalaman pribadi.

  1. Mulai dengan mindset bahwa:Final Project is supposed to be hard and challenging (Tugas akhir itu sudah saharusnya sulit dan menantang). Kalau tugas akhir mudah, ya tentu namanya bukan tugas akhir. Tugas akhir memang seharusnya sulit dan memaksa kita untuk belajar dan bekerja lebih keras. Kita harus melihat tugas akhir sebagai sesuatu tantangan. Sesuatu yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu dengan kualitas terbaik. Dan pada prakteknya, sedikit banyak mahasiswa akan diperhadapkan dengan banyak pengetahuan yang belum pernah ia pelajari semasa kuliah. Ketika saya dulu memulai tugas akhir, saya menggunakan metode elemen hingga (finite element) yang sama sekali belum pernah dipelajari semasa saya kuliah. Namun, saya tetap harus belajar metode tersebut berbekal pengetahuan yang saya pelajari semasa kuliah. Denganmindset ini, kita menjadi siap secara mental ketika menghadapi kesulitan saat mengerjaka tugas akhir (dan by the way, kita pasti menghadapi kesulitan). In final project difficulties is inevitable.  
  2. Punya buku catatan tugas akhir. Saya sarankan untuk memiliki buku catatan tugas akhir. Buku di sini dalam arti buku fisik, yang ditulis dengan puplen/pensil, bukan dalam bentuk digital. Dengan buku fisik, kita dapat menulis dan menggambar desain/ide dengan lebih leluasa. Kita dapat membuat sketsa/diagram alir dengan lebih bebas. KIta juga dapat mencatat data dan parameter eksperimen pada buku tersebut. Selain itu, kita dapat mencatat masukan dari dosen pembimbing pada buku tersebut. Menurut saya manfaat terbesar adalah buku tugas akhir dapat memberikan sense of progress. Dengan begitu kita dapat bersyukur untuk progressyang kita lalui dan memberikan motivasi kepada kita untuk menyelesaikan tugas akhir.
  3. Mulailah menulis. Menulis tugas akhir dalam bentuk buku tidaklah harus menunggu hingga penelitian selesai. Prinsip saya: write what you can write. Contoh: bab dasar teori tidaklah harus ditulis nanti pada saat penelitian rampung. Kita dapat dengan segera menulis dasar teori yang berasal dari buku rujukan. Contoh lainnya adalah saat menulis referensi (biasanya di bab pendahuluan) yang dapat segera kita tulis setelah mendapatkan referensi yang relevan. Lalu bagaimana apabila kita tidak memerlukan semua referensi/dasar teori? Kita dapat mengeliminasi yang tidak kita gunakan nanti saat mengkompilasi tugas akhir. Poinnya adalah kita dapat belajar menyampaikan gagasan secara tertulis. Dan apabila kita ingin memiliki tulisan yang baik, tentu kita harus belajar menulis. So, start writing.
  4. Miliki teman diskusi. My definition of “friend”: the person who can keep my insanity. Ketika saya dulu mengerjakan tugas akhir (dan tesis serta disertasi), saya seringkali mengalami stress yang berkepanjangan. Ketika itu, hal yang paling tidak mengenakan adalah ketika stress sendirian dan kemudian saya terjebak untuk menutup diri dari orang lain. It was a painful process. Tidak betah dalam kondisi seperti itu, saya lalu belajar untuk berdiskusi tugas akhir dengan teman. Teman tersebut mungkin tidak mengerti banyak tentang topik yang sedang saya kerjakan, namun seringkali masukan sederhana dan polos yang ia berikan kepada saya justru yang berhasil.Sometimes we overcomplicate things and we need some simple solution. Selain memberi masukan, mereka (terutama yang senasib dan sepenanggungan) dapat menjadi teman hangout. Terkadang kita butuh “melarikan diri” sejenak dari mumetnya tugas akhir. Dan terkadang saat “melarikan diri” itulah kita mendapat ide brilian untuk memecahkan persoalan tugas akhir.
  5. Jangan “kabur” dari dosen pembimbing dan pertemuan rutin bimbingan.You just have to show up, even there is no progress. Satu hal yang saya salah mengerti ketika dulu mengerjakan tugas akhir adalah saya berpikir bahwa saya harus membawa progress/hasil ketika bimbingan; dan kalau saya tidak membawa hasil saya tidak “layak” untuk menghadap dosen pembimbing. Well, it is totally wrong.Saya rasa tiap proses (bukan progress) harus kita laporkan sebagai bentuk akuntabilitas dan apabila kita “mentok”, kita dapat bercerita kendala yang kita temui. Kesalahan yang sering saya lihat adalah mahasiswa justru menjadi “buronan” or “most wanted”, yang terus menghindar apabila akan ketemu dosen pembimbing. Sekali kita melarikan diri, sangat sulit untuk melakukan bimbingan; kita akan terjebak pada behavioryang terus menghindar dan pada akhirnya tugas akhir menjadi terbengkalai.The truth is, I’ve been there. Dulu sewaktu mengerjakan tugas akhir sarjana, saya sempat “menghilang” dari peredaran di kampus selama 6 bulan. Awalnya saya enggan bimbingan karena tidak ada progress. Satu kali skip, berlanjut ke skip yang selanjutnya dan tanpa sadar, saya sudah menghilang selama 6 bulan. Sungguh sulit untuk kembali pada track ketika itu, dan pulih dari perasaan “malu” ketika bertemu dosen pembimbing. Saya lalu memulai kembali pengerjaan tugas akhir dengan langkah sederhana, yaitu menghadap dosen pembimbing dengan “progressseadanya”, sejak itu momentum dimulai dan semangat saya pulih. So, just show up and start the momentum.

Bimbingan tugas akhir: Japanese or European style?

It’s been a while sejak saya menulis di sini. Kesibukan yang tampaknya belum bisa saya kelola dengan baik membuat saya tidak memiliki waktu untuk mengasah kemampuan menulis. Hari ini saya bisa nulis karena di kampus “agak” sedikit longgar (walau sebetulnya ada banyak pekerjaan yang tertunda).

Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi pengalaman tentang “gaya/style” proses bimbingan mahasiswa yang pernah saya alami. Saya mulai merefleksikan pengalaman tersebut karena di semester ini adalah kali pertama saya membimbing tugas akhir program sarjana di program studi Teknik Elektro Konsentrasi Mekatronika, Universtas Katolik Parahyangan.

Di awal semester ini, saya dipercaya membimbing delapan mahasiswa dengan dua konsentrasi topik, yakni agritronics (aplikasi keilmuan mekatronika di bidang pertanian/agriculture) dan edutronics (aplikasi keilmuan mekatronika di bidang pendidikan).  Kedua topik tersebut merupakan interest saya secara pribadi. Dalam proses pembimbingan ini, saya akan banyak belajar dari seorang dosen senior yaitu Dr. Ali Sadiyoko yang bertindak sebagai pembimbing utama.

Saya menyadari bahwa hasil dari tugas akhir ini selain bergantung dari mahasiswa, juga bergantung dari proses/gaya pembimbingan. Selain itu juga tergantung dari relasi antara mahasiswa dan dosen pembimbing. Berkaca dari pengalaman yang pernah saya alami, di sini saya coba mengulas perbedaan gaya pembimbingan tugas akhir di dua negara, yakni Jepang dan Perancis.

Japanese Style: Kanazawa University 2009-2010

Saya berkesempatan kuliah berbasis riset di Kanazawa University pada program studi Computational Science. Ketika itu, topik saya adalah fluida dinamis dan berada dibawah bimbingan Prof. Seiro Omata.

Di Jepang, satu professor menangani satu laboratorium. Laboratorium di sini bukan berarti tempat untuk melakukan eksperimen, namun lebih kepada komunitas riset. Oleh karena itu, laboratorium disebut juga dengan istilah research group. Satu grup riset dikelola secara independen oleh satu professor. Sehingga di Jepang, nama grup riset merupakan nama sang professor (atau lebih dikenal dengan panggilan sensei). Jadi, waktu itu saya tergabung dalam grup riset Omata Lab.

Nah saking independennya grup riset di Jepang, satu grup memiliki sumber daya yang dikelola dan digunakan hanya oleh anggota grup tersebut. Satu grup riset misalnya memiliki printer yang hanya boleh digunakan oleh grup yang bersangkutan serta memiliki ruang yang juga hanya digunakan oleh grup tersebut. Dana hibah/research grant juga dikelola secara mandiri oleh grup tersebut. Dan sebagaimana lazimnya negara Jepang, kepemimpinan di grup sangatlah top down/hirarki, mulai dari professor, associate dan assistant professor,  mahasiswa S3, mahasiswa S2 hingga mahasiswa S1.

In Japan you have to be fully committed to one research group

Setiap grup riset juga memiliki “ritual” yang berbeda. Biasanya ada ritual penyambutan/penerimaan anggota grup baru serta perpisahan anggota grup yang sudah lulus. Selain itu juga ada waktu-waktu tertentu untuk relaks bersama misalnya jalan-jalan ke pusat kota, jalan-jalan ke taman kota, ke pantai dan sebagainya.

Nah, lalu bagaimana proses pembimbingan di Jepang? Apabila kita melihat dari kultur dari grup riset, maka kita dapat melihat bahwa proses pembimbingan di Jepang merupakan proses apprenticeship. Arti kata apprentice sendiri adalah a person who is learning a trade from a skilled employer, having agreed to work for a fixed period at low wages. Maka di Jepang, kita betul-betul belajar dan dibimbing dari satu sensei saja. Anggota grup lain dapat membantu dengan seijin dan juga arahan dari sensei.

Proses apprenticeship ini memiliki implikasi bahwa anggota grup dituntut untuk memiliki laju kerja yang sama dengan sensei ybs. Oleh karena itu, munculah suatu budaya bahwa

Mahasiswa dilarang untuk pulang duluan sebelum senior atau senseinya pulang

Budaya itulah yang saya alami ketika kuliah di Kindai (sebutan lain Kanazawa University). Budaya kerja keras, laju kerja yang cepat karena Omata sensei adalah juga seorang pekerja keras. Tidak jarang Omata sensei mengunjungi ruang kerja kami para mahasiswa Indonesia di malam hari untuk menanyakan update penelitian.

Di grup riset lainjuga  misalnya, ada pertemuan rutin setiap minggu dimana mahasiswa memberikan update dari hasil penelitian mereka. Dan apabila mahasiswa tidak dapat memenuhi target atau ekspektasi dari sensei, maka mereka akan mendapat teguran yang keras.

So, back then life was hard, never been in my life that I worked 60-80 hours per week (yes, sometimes Omata sensei works on holiday/weekend). But it taught me the value of hard work and perseverance.

European Style: Universite Du Littoral, 2012-2014

Berbeda dengan proses pembimbingan di Jepang, di Perancis (mungkin sama dengan seluruh Eropa) proses pembimbingannya jauh lebih santai. Di Eropa, mereka lebih memperhatikan keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan (work life balance). Jam normal untuk nge-lab adalah jam 9 pagi hingga 4 sore. Jam kerja yang sangat normal, ditambah libur akhir pekan Sabtu dan Minggu. Selain itu khususnya di Perancis ada begitu banyak hari libur nasional.

Saya cukup mengalami culture shock ketika memulai riset di Perancis. Saya dianggap aneh ketika datang sebelum jam 9 dan pulang malam (di atas jam 6 sore), terlebih apabila saya bekerja di akhir pekan. Rasanya orang Eropa lebih memperhatikan kualitas kerja ketimbang kuantitas.

Untuk pengelolaan grup riset, satu grup riset bisa diisi oleh beberapa Profesor. Sarana dan prasasara juga saling berbagi. Untuk satu ruang kerja terdapat satu printer dan ruangan tersebut diisi oleh banyak mahasiswa yang dibimbing oleh professor yang berbeda. Oleh karena itu, saya dapat berdiskusi dengan mahasiswa yang dibimbing oleh professor lain. Suatu kesempatan yang tidak saya temui di Jepang.

Dari segi laju kerja pun, mahasiswa tidak dibudayakan untuk mengikuti laju kerja professornya. Deadline tidak terlalu strict dan tuntutan riset pun tidaklah sebanyak di Jepang. Mahasiswa tidak dibebankan ekspektasi yang tinggi dari professornya. Mungkin hal ini bisa berbeda dengan negara lain di Eropa namun setidaknya itulah yang saya alami.

Di Perancis saya belajar menyeimbangkan kehidupan. Berbeda dengan di Jepang dimana prioritas tertinggi adalah untuk riset. Menurut saya, pola mana yang diambil ada plus dan minusnya. Semuanya tentu kembali pada sang mahasiswa yang dituntut untuk mampu mengelola proses bimbingan tugas akhirnya.

So, which one should I adopt? 

Untuk sekarang saya mencoba melihat keadaan mahasiswa terlebih dahulu, mungkin memberikan mereka ekspektasi yang sesuai dengan kadar mereka masing-masing. Untuk sekarang, saya merancang pertemuan rutin setiap Rabu pagi. Setidaknya dengan cara sederhana ini, saya dapat “mencoba ombak” terlebih dahulu kemudian nanti dapat memutuskan style pembimbingan tugas akhir.