Bimbingan tugas akhir: Japanese or European style?

It’s been a while sejak saya menulis di sini. Kesibukan yang tampaknya belum bisa saya kelola dengan baik membuat saya tidak memiliki waktu untuk mengasah kemampuan menulis. Hari ini saya bisa nulis karena di kampus “agak” sedikit longgar (walau sebetulnya ada banyak pekerjaan yang tertunda).

Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi pengalaman tentang “gaya/style” proses bimbingan mahasiswa yang pernah saya alami. Saya mulai merefleksikan pengalaman tersebut karena di semester ini adalah kali pertama saya membimbing tugas akhir program sarjana di program studi Teknik Elektro Konsentrasi Mekatronika, Universtas Katolik Parahyangan.

Di awal semester ini, saya dipercaya membimbing delapan mahasiswa dengan dua konsentrasi topik, yakni agritronics (aplikasi keilmuan mekatronika di bidang pertanian/agriculture) dan edutronics (aplikasi keilmuan mekatronika di bidang pendidikan).  Kedua topik tersebut merupakan interest saya secara pribadi. Dalam proses pembimbingan ini, saya akan banyak belajar dari seorang dosen senior yaitu Dr. Ali Sadiyoko yang bertindak sebagai pembimbing utama.

Saya menyadari bahwa hasil dari tugas akhir ini selain bergantung dari mahasiswa, juga bergantung dari proses/gaya pembimbingan. Selain itu juga tergantung dari relasi antara mahasiswa dan dosen pembimbing. Berkaca dari pengalaman yang pernah saya alami, di sini saya coba mengulas perbedaan gaya pembimbingan tugas akhir di dua negara, yakni Jepang dan Perancis.

Japanese Style: Kanazawa University 2009-2010

Saya berkesempatan kuliah berbasis riset di Kanazawa University pada program studi Computational Science. Ketika itu, topik saya adalah fluida dinamis dan berada dibawah bimbingan Prof. Seiro Omata.

Di Jepang, satu professor menangani satu laboratorium. Laboratorium di sini bukan berarti tempat untuk melakukan eksperimen, namun lebih kepada komunitas riset. Oleh karena itu, laboratorium disebut juga dengan istilah research group. Satu grup riset dikelola secara independen oleh satu professor. Sehingga di Jepang, nama grup riset merupakan nama sang professor (atau lebih dikenal dengan panggilan sensei). Jadi, waktu itu saya tergabung dalam grup riset Omata Lab.

Nah saking independennya grup riset di Jepang, satu grup memiliki sumber daya yang dikelola dan digunakan hanya oleh anggota grup tersebut. Satu grup riset misalnya memiliki printer yang hanya boleh digunakan oleh grup yang bersangkutan serta memiliki ruang yang juga hanya digunakan oleh grup tersebut. Dana hibah/research grant juga dikelola secara mandiri oleh grup tersebut. Dan sebagaimana lazimnya negara Jepang, kepemimpinan di grup sangatlah top down/hirarki, mulai dari professor, associate dan assistant professor,  mahasiswa S3, mahasiswa S2 hingga mahasiswa S1.

In Japan you have to be fully committed to one research group

Setiap grup riset juga memiliki “ritual” yang berbeda. Biasanya ada ritual penyambutan/penerimaan anggota grup baru serta perpisahan anggota grup yang sudah lulus. Selain itu juga ada waktu-waktu tertentu untuk relaks bersama misalnya jalan-jalan ke pusat kota, jalan-jalan ke taman kota, ke pantai dan sebagainya.

Nah, lalu bagaimana proses pembimbingan di Jepang? Apabila kita melihat dari kultur dari grup riset, maka kita dapat melihat bahwa proses pembimbingan di Jepang merupakan proses apprenticeship. Arti kata apprentice sendiri adalah a person who is learning a trade from a skilled employer, having agreed to work for a fixed period at low wages. Maka di Jepang, kita betul-betul belajar dan dibimbing dari satu sensei saja. Anggota grup lain dapat membantu dengan seijin dan juga arahan dari sensei.

Proses apprenticeship ini memiliki implikasi bahwa anggota grup dituntut untuk memiliki laju kerja yang sama dengan sensei ybs. Oleh karena itu, munculah suatu budaya bahwa

Mahasiswa dilarang untuk pulang duluan sebelum senior atau senseinya pulang

Budaya itulah yang saya alami ketika kuliah di Kindai (sebutan lain Kanazawa University). Budaya kerja keras, laju kerja yang cepat karena Omata sensei adalah juga seorang pekerja keras. Tidak jarang Omata sensei mengunjungi ruang kerja kami para mahasiswa Indonesia di malam hari untuk menanyakan update penelitian.

Di grup riset lainjuga  misalnya, ada pertemuan rutin setiap minggu dimana mahasiswa memberikan update dari hasil penelitian mereka. Dan apabila mahasiswa tidak dapat memenuhi target atau ekspektasi dari sensei, maka mereka akan mendapat teguran yang keras.

So, back then life was hard, never been in my life that I worked 60-80 hours per week (yes, sometimes Omata sensei works on holiday/weekend). But it taught me the value of hard work and perseverance.

European Style: Universite Du Littoral, 2012-2014

Berbeda dengan proses pembimbingan di Jepang, di Perancis (mungkin sama dengan seluruh Eropa) proses pembimbingannya jauh lebih santai. Di Eropa, mereka lebih memperhatikan keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan (work life balance). Jam normal untuk nge-lab adalah jam 9 pagi hingga 4 sore. Jam kerja yang sangat normal, ditambah libur akhir pekan Sabtu dan Minggu. Selain itu khususnya di Perancis ada begitu banyak hari libur nasional.

Saya cukup mengalami culture shock ketika memulai riset di Perancis. Saya dianggap aneh ketika datang sebelum jam 9 dan pulang malam (di atas jam 6 sore), terlebih apabila saya bekerja di akhir pekan. Rasanya orang Eropa lebih memperhatikan kualitas kerja ketimbang kuantitas.

Untuk pengelolaan grup riset, satu grup riset bisa diisi oleh beberapa Profesor. Sarana dan prasasara juga saling berbagi. Untuk satu ruang kerja terdapat satu printer dan ruangan tersebut diisi oleh banyak mahasiswa yang dibimbing oleh professor yang berbeda. Oleh karena itu, saya dapat berdiskusi dengan mahasiswa yang dibimbing oleh professor lain. Suatu kesempatan yang tidak saya temui di Jepang.

Dari segi laju kerja pun, mahasiswa tidak dibudayakan untuk mengikuti laju kerja professornya. Deadline tidak terlalu strict dan tuntutan riset pun tidaklah sebanyak di Jepang. Mahasiswa tidak dibebankan ekspektasi yang tinggi dari professornya. Mungkin hal ini bisa berbeda dengan negara lain di Eropa namun setidaknya itulah yang saya alami.

Di Perancis saya belajar menyeimbangkan kehidupan. Berbeda dengan di Jepang dimana prioritas tertinggi adalah untuk riset. Menurut saya, pola mana yang diambil ada plus dan minusnya. Semuanya tentu kembali pada sang mahasiswa yang dituntut untuk mampu mengelola proses bimbingan tugas akhirnya.

So, which one should I adopt? 

Untuk sekarang saya mencoba melihat keadaan mahasiswa terlebih dahulu, mungkin memberikan mereka ekspektasi yang sesuai dengan kadar mereka masing-masing. Untuk sekarang, saya merancang pertemuan rutin setiap Rabu pagi. Setidaknya dengan cara sederhana ini, saya dapat “mencoba ombak” terlebih dahulu kemudian nanti dapat memutuskan style pembimbingan tugas akhir.