Daily Habits

Rutinitas tanpa tujuan adalah hal yang mengerikan; namun rutinitas tidak bisa dihindari. Sehingga rutinitas sebetulnya tidak selalu negatif. Apabila kita menjalankan rutinitas dengan tujuan yang jelas dan memiliki pola pikir yang benar tentang keseharian, maka kita dapat menjalani rutinitas dengan baik.

Apa yang harus dilakukan setiap hari, harus dilakukan setiap hari (makan, tidur, olahraga). Hal ini benar secara jasmani dan benar secara rohani. Kita tidak bisa berdoa hanya di hari minggu untuk satu minggu. Doa dan saat teduh harus dilakukan setiap hari. Seperti doa yang diajarkan Yesus:

Continue reading

Mari membangun Indonesia: berpikir lebih dari sekedar lulus

foto oleh Timothy Austin @tim_austin1

Tanggal 7 Agustus 2017 yang lalu, saya berkesempatan untuk pertama kalinya menjadi fasilitator SINDU (Spiritualitas dan Nilai Nilai Dasar UNPAR) untuk para mahasiswa baru angkatan 2017 di kegiatan SIAP (Inisiasi dan Adaptasi) UNPAR. Kami para fasilitator harus menyampaikan 3 (tiga) modul tentang SINDU dan satu modul tentang wawasan kebangsaan.

Dalam SINDU, dikenal tiga nilai dasar dan tujuh prinsip etis yang digambarkan dengan simbol rumah Leuit (rumah trandisional sunda). Tentang wawasan kebangsaan, kami para fasilitator mengingatkan para mahasiswa baru tentang Bangsa Indonesia yang sangat beragam dan memiliki falsafah Pancasila sebagai dasar negara dan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara. Wawasan kebangsaan menjadi sangat penting bagi mahasiswa baru yang harus paham bahwa bangsa ini adalah bangsa yang sangat beragam suku, bahasa, agama dan ras yang menjadi satu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Satu hal yang saya tekankan kepada mahasiswa baru adalah ketika mereka menjalani proses perkuliahan, mereka harus punya mindset untuk lebih dari sekedar lulus dari UNPAR. Mereka harus memiliki mindset untuk ikut membangun negeri ini dengan keahlian yang akan mereka miliki setelah menempuh pendidikan di UNPAR.

Continue reading

Papa: figur yang membuat saya ingin jadi dosen

I am today because of my dad, a genuine example of dedication as a lecturer

Hari ini dua tahun lalu adalah hari ketika saya resmi bekerja sebagai dosen di program studi Teknik Elektro Konsentrasi Mekatronika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Katolik Parahyangan. Memasuki masa dua tahun profesi ini, ada banyak kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan Fakultas kepada saya yang masih tergolong baru ini. Saya merasa over ekspektasi terhadap apa yang Tuhan kerjakan melalui profesi saya ini. Namun itulah Dia, yang selalu memberikan lebih daripada apa yang kita pikiran.

Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita… – Efesus 3:20

Inspirasi dari Papa

Saya bercita-cita menjadi dosen karena inspirasi dari Papa (Soleman Naa S.Sos., M.Si.). Papa yang Tuhan panggil pulang pada tanggal 27 Juli 2017 yang lalu. Papa dipanggil pulang tanpa rasa sakit, beliau meninggal ketika istirahat malam. Salah satu hal yang membekas dalam diri saya adalah contoh nyata beliau yang penuh dedikasi dalam profesinya sebagai dosen dan pegawai negeri sipil ketika bertugas di Papua dulu.

Ketika saya SD dulu, saya sering melihat Papa menyiapkan kuliah dengan transparansi, menggunakan spidol warna dengan tulisan tangannya. Waktu itu belum ada yang namanya proyektor, transparansi tersebut dipakai dengan menggunakan overhead projector. Di jaman itu, transpransi tersebut terlihat sangat keren. Saya yang masih SD sangat takjub melihat Papa yang hampir setiap hari bahkan hingga malam hari mempersiapkan kuliah.

Ketika itu juga, saya seringkali melihat Papa membaca buku. Bahkan sampai Papa ketiduran. Rasanya pemandangan ketika kecil itulah yang membuat saya jadi rajin membaca. Saya ingat ketika SD, beberapa buku Papa tentang house keeping, perhotelan, manajemen dan kepemimpinan sering saya baca.

Meja kerja terakhir Papa; tempat dimana beliau menyiapkan kuliah dan mengerjakan tugas administrasi sebagai anggota senat akademik

Papa: my role model

Saya sebagaimana saya sekarang adalah karena Papa. Terutama perannya yang menginspirasi saya menjadi seorang pengajar. Kami memang jarang ngobrol karena mungkin sejak saya SMA kelas 2 Papa pindah kerja menjadi pegawai negeri sipil di Papua. Namun saya sangat bersyukur, saya sempat curhat ke Papa tentang tawaran posisi di Fakultas. Saya sebetulnya jarang meminta pendapat Papa, namun entah kenapa ketika itu saya ingin meminta persetujuan Papa.

Papa adalah role model yang tidak banyak bicara, lembut, punya hati yang besar, pekerja keras dan tidak merepotkan orang lain bahkan sampai akhir hidupnya. Kehidupannya telah menjadi teladan bagi banyak orang. Papa: my role model.