Bimbingan tugas akhir: Japanese or European style?

It’s been a while sejak saya menulis di sini. Kesibukan yang tampaknya belum bisa saya kelola dengan baik membuat saya tidak memiliki waktu untuk mengasah kemampuan menulis. Hari ini saya bisa nulis karena di kampus “agak” sedikit longgar (walau sebetulnya ada banyak pekerjaan yang tertunda).

Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi pengalaman tentang “gaya/style” proses bimbingan mahasiswa yang pernah saya alami. Saya mulai merefleksikan pengalaman tersebut karena di semester ini adalah kali pertama saya membimbing tugas akhir program sarjana di program studi Teknik Elektro Konsentrasi Mekatronika, Universtas Katolik Parahyangan.

Di awal semester ini, saya dipercaya membimbing delapan mahasiswa dengan dua konsentrasi topik, yakni agritronics (aplikasi keilmuan mekatronika di bidang pertanian/agriculture) dan edutronics (aplikasi keilmuan mekatronika di bidang pendidikan).  Kedua topik tersebut merupakan interest saya secara pribadi. Dalam proses pembimbingan ini, saya akan banyak belajar dari seorang dosen senior yaitu Dr. Ali Sadiyoko yang bertindak sebagai pembimbing utama.

Saya menyadari bahwa hasil dari tugas akhir ini selain bergantung dari mahasiswa, juga bergantung dari proses/gaya pembimbingan. Selain itu juga tergantung dari relasi antara mahasiswa dan dosen pembimbing. Berkaca dari pengalaman yang pernah saya alami, di sini saya coba mengulas perbedaan gaya pembimbingan tugas akhir di dua negara, yakni Jepang dan Perancis.

Japanese Style: Kanazawa University 2009-2010

Saya berkesempatan kuliah berbasis riset di Kanazawa University pada program studi Computational Science. Ketika itu, topik saya adalah fluida dinamis dan berada dibawah bimbingan Prof. Seiro Omata.

Di Jepang, satu professor menangani satu laboratorium. Laboratorium di sini bukan berarti tempat untuk melakukan eksperimen, namun lebih kepada komunitas riset. Oleh karena itu, laboratorium disebut juga dengan istilah research group. Satu grup riset dikelola secara independen oleh satu professor. Sehingga di Jepang, nama grup riset merupakan nama sang professor (atau lebih dikenal dengan panggilan sensei). Jadi, waktu itu saya tergabung dalam grup riset Omata Lab.

Nah saking independennya grup riset di Jepang, satu grup memiliki sumber daya yang dikelola dan digunakan hanya oleh anggota grup tersebut. Satu grup riset misalnya memiliki printer yang hanya boleh digunakan oleh grup yang bersangkutan serta memiliki ruang yang juga hanya digunakan oleh grup tersebut. Dana hibah/research grant juga dikelola secara mandiri oleh grup tersebut. Dan sebagaimana lazimnya negara Jepang, kepemimpinan di grup sangatlah top down/hirarki, mulai dari professor, associate dan assistant professor,  mahasiswa S3, mahasiswa S2 hingga mahasiswa S1.

In Japan you have to be fully committed to one research group

Setiap grup riset juga memiliki “ritual” yang berbeda. Biasanya ada ritual penyambutan/penerimaan anggota grup baru serta perpisahan anggota grup yang sudah lulus. Selain itu juga ada waktu-waktu tertentu untuk relaks bersama misalnya jalan-jalan ke pusat kota, jalan-jalan ke taman kota, ke pantai dan sebagainya.

Nah, lalu bagaimana proses pembimbingan di Jepang? Apabila kita melihat dari kultur dari grup riset, maka kita dapat melihat bahwa proses pembimbingan di Jepang merupakan proses apprenticeship. Arti kata apprentice sendiri adalah a person who is learning a trade from a skilled employer, having agreed to work for a fixed period at low wages. Maka di Jepang, kita betul-betul belajar dan dibimbing dari satu sensei saja. Anggota grup lain dapat membantu dengan seijin dan juga arahan dari sensei.

Proses apprenticeship ini memiliki implikasi bahwa anggota grup dituntut untuk memiliki laju kerja yang sama dengan sensei ybs. Oleh karena itu, munculah suatu budaya bahwa

Mahasiswa dilarang untuk pulang duluan sebelum senior atau senseinya pulang

Budaya itulah yang saya alami ketika kuliah di Kindai (sebutan lain Kanazawa University). Budaya kerja keras, laju kerja yang cepat karena Omata sensei adalah juga seorang pekerja keras. Tidak jarang Omata sensei mengunjungi ruang kerja kami para mahasiswa Indonesia di malam hari untuk menanyakan update penelitian.

Di grup riset lainjuga  misalnya, ada pertemuan rutin setiap minggu dimana mahasiswa memberikan update dari hasil penelitian mereka. Dan apabila mahasiswa tidak dapat memenuhi target atau ekspektasi dari sensei, maka mereka akan mendapat teguran yang keras.

So, back then life was hard, never been in my life that I worked 60-80 hours per week (yes, sometimes Omata sensei works on holiday/weekend). But it taught me the value of hard work and perseverance.

European Style: Universite Du Littoral, 2012-2014

Berbeda dengan proses pembimbingan di Jepang, di Perancis (mungkin sama dengan seluruh Eropa) proses pembimbingannya jauh lebih santai. Di Eropa, mereka lebih memperhatikan keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan (work life balance). Jam normal untuk nge-lab adalah jam 9 pagi hingga 4 sore. Jam kerja yang sangat normal, ditambah libur akhir pekan Sabtu dan Minggu. Selain itu khususnya di Perancis ada begitu banyak hari libur nasional.

Saya cukup mengalami culture shock ketika memulai riset di Perancis. Saya dianggap aneh ketika datang sebelum jam 9 dan pulang malam (di atas jam 6 sore), terlebih apabila saya bekerja di akhir pekan. Rasanya orang Eropa lebih memperhatikan kualitas kerja ketimbang kuantitas.

Untuk pengelolaan grup riset, satu grup riset bisa diisi oleh beberapa Profesor. Sarana dan prasasara juga saling berbagi. Untuk satu ruang kerja terdapat satu printer dan ruangan tersebut diisi oleh banyak mahasiswa yang dibimbing oleh professor yang berbeda. Oleh karena itu, saya dapat berdiskusi dengan mahasiswa yang dibimbing oleh professor lain. Suatu kesempatan yang tidak saya temui di Jepang.

Dari segi laju kerja pun, mahasiswa tidak dibudayakan untuk mengikuti laju kerja professornya. Deadline tidak terlalu strict dan tuntutan riset pun tidaklah sebanyak di Jepang. Mahasiswa tidak dibebankan ekspektasi yang tinggi dari professornya. Mungkin hal ini bisa berbeda dengan negara lain di Eropa namun setidaknya itulah yang saya alami.

Di Perancis saya belajar menyeimbangkan kehidupan. Berbeda dengan di Jepang dimana prioritas tertinggi adalah untuk riset. Menurut saya, pola mana yang diambil ada plus dan minusnya. Semuanya tentu kembali pada sang mahasiswa yang dituntut untuk mampu mengelola proses bimbingan tugas akhirnya.

So, which one should I adopt? 

Untuk sekarang saya mencoba melihat keadaan mahasiswa terlebih dahulu, mungkin memberikan mereka ekspektasi yang sesuai dengan kadar mereka masing-masing. Untuk sekarang, saya merancang pertemuan rutin setiap Rabu pagi. Setidaknya dengan cara sederhana ini, saya dapat “mencoba ombak” terlebih dahulu kemudian nanti dapat memutuskan style pembimbingan tugas akhir.

Manage it or Lose it

Pengantar
Bangsa Jepang terkenal dengan kebersihan, kerapihan, kedisiplinan dan ketertibannya. Tempat-tempat umum seperti stasiun dan kereta sangat terjaga kebersihannya. Pola hidup  tersebut ternyata sudah dibiasakan sejak kecil. Bangsa yang mayoritas penduduknya tidak mengenal Tuhan ternyata hidupnya sangat bersih, rapih, disiplin dan tertib.

Hidup sebagai pengelola
Tugas kita adalah mengelola apa yang Tuhan percayakan. Adam dipercaya Tuhan untuk mengelola taman eden.

“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” – Kejadian 2:15

Segala hal yang ada di tangan kita bukanlah milik kita, namun milik Allah. Kita hanya dipercaya untuk mengelolanya (we don’t own it, we entrusted it). Segala hal bicara tentang uang, waktu, hubungan sosial, barang-barang dan sebagainya. Walaupun kita menganggap diri kita tidak punya banyak, namun everyone of us responsible for something. Setiap kita bertanggungjawab akan sesuatu. Masing-masing kita memiliki 24 jam untuk dipergunakan dengan baik; masing-masing kita memiliki uang untuk dikelola baik itu dalam jumlah banyak atau sedikit.

Segala sesuatu yang tidak bisa kita kelola akan hilang
Either we manage it, or we lose it. Waktu yang tidak kita kelola akan hilang sia-sia. Pernahkah kita dalam satu hari merasa tidak melakukan banyak hal? Pernahkah kita menyia-nyiakan waktu yang sudah Tuhan berikan? Energi yang tidak kita kelola akan hilang. Kita seringkali menyia-nyiakan energi untuk melakukan aktivitas yang tidak berguna untuk kemudian tidak punya energi untuk aktivitas yang penting. Energi bicara soal tenaga secara fisik dan kemampuan berpikir kita. Uang yang tidak kita kelola akan hilang. Seringkali juga kita menyia-nyiakan uang dengan menghabiskannya mengikuti keinginan mata.

“Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.” – Matius 25:28

Kita belajar dari perumpamaan tentang talenta bahwa talenta yang dititipkan hamba yang jahat dan malas diberikan kepada hamba yang dapat mengelola lima talenta. Segala sesuatu yang tidak bisa kita kelola akan hilang. Segala sesuatu yang tidak bisa kita kelola suatu saat juga akan diberikan kepada orang lain yang dapat mengelolanya.

Apabila kita bisa kelola segala sesuatu, maka kita akan dipercayakan lebih
Perumpamaan tentang talenta juga bicara tentang kepercayaan. Apabila kita setia dalam perkara kecil, maka kita akan diberikan kepercayaan untuk mengelola hal yang besar. Jadi don’t even dream untuk punya hal-hal besar kalau hal yang kecil tidak bisa kita kelola dengan baik. Jangan punya mimpi punya uang banyak apabila yang sedikit tidak bisa kita kelola. Jangan punya mimpi memiliki pekerjaan yang besar apabila pekerjaan kecil tidak bisa kita kelola dengan baik. Banyak orang yang mengeluh tentang hal kecil yang ia punya, padahal hal kecil tersebut adalah kepercayaan yang Tuhan berikan.

Setiap kita diberi sesuai dengan kapasitas kita
Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. – Matius 25:15

Masing-masing kita memiliki hal yang harus kita kelola, dan hal tersebut Tuhan berikan sesuai dengan kesanggupan kita. Maka apabila kita belum dipercaya untuk mengelola hal yang besar, artinya memang kita belum sanggup. Kesanggupan bicara soal kapasitas seseorang. Kapasitas untuk mengelola pekerjaan, waktu dan uang. Kapasitas juga bicara soal kemampuan seseorang untuk menampung dan mengelola hal yang dipercayakan kepadanya. Tugas kita adalah memperbesar kapasitas yang kita miliki. Caranya sederhana yakni berlatih mengelola apa yang Tuhan percayakan kepada kita.

Baik dan setia berarti produktif dan berbuah
Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. – Matius 25:23

Baik dan setia berarti berbuah dan produktif. Baik dan setia berarti untung. Ini yang kita baca dari Alkitab tentang pengertian baik dan setia. Namun seringkali kita mendapat pemahaman yang berbeda tentang kesetiaan; kita pikir setia berarti selalu ada pada tanggung jawab yang sama. Kita pikir setia berarti mengelola hal yang sama terus menerus, padahal setia yang kita baca di Alkitab bicara soal produktif dan berbuah.

Tiga tindakan sederhana untuk melatih kemampuan mengelola

  1. Cleaning as we go. Bersihkan tempat yang kita diami lebih rapih dan lebih bersih. Bekas makanan dan minuman, tidak meyampah di bioskop dan tempat umum. Bersihkan dan rapihkan benda yang kita pinjam dari orang lain.
  2. Make notes. Catat apa yang kita punya dan kewajiban yang harus kita lakukan. Don’t trust your brain, make notes. Kebiasaan mencatat akan menolong kita. Otak kita memang tidak terbatas, namun akan sia-sia apabila kita pergunakan untuk mengingat sesuatu. Gunakan otak kita untuk berpikir dan simpan hal-hal yang harus kita ingat di catatan.
  3. Setia dalam hal kecil. Janga kecil hati apabila kita dipercaya akan hal kecil, mengelola hal kecil merupakan latihan untuk mengelola hal besar. Tanggung jawab sekecil apapun harus kita kerjakan sebaik mungkin.

Until you get the chance to do great things, do all the small things the great way. – Ps. Jose Carol

Reference: Manage it or Lose it – Ps. Jeffrey Rachmat

Gajah mati meninggalkan gading, orang mati meninggalkan nama (a tribute for my dad)

Menjelang 3 (tiga) bulan kepergiaan papa ke surga, saya dan keluarga berkunjung ke kota Sorong, Papua untuk mengurus berkas-berkas almarhum papa. Kami juga berkunjung ke Kabupaten Maybrat tempat papa bekerja sebagai pegawai negeri sipil dan tempat di mana dia dibesarkan. Berkas-berkas tersebut adalah untuk pengurusan dana pensiun serta hak-hak papa sebagai pegawai.

Saya termasuk anak yang jarang bercerita dengan papa, beda dengan adik saya yang memang suka cerita dengan beliau. Saya juga tahu tentang kehidupan masa kecil papa dan cerita tentang pekerjaannya pun dari mama atau orang lain. Tibalah saya di Papua, di Sorong dan Maybrat. Di sana saya baru tahu tentang kehidupan papa saya yang luar biasa dari orang-orang yang mengenalnya.

 
Places where dad spent his childhood

Kata mereka papa adalah orang yang baik, orang yang suka memberi tanpa berhitung. Seseorang yang berhati besar dan bersih ketika menjabat sebagai pejabat daerah. Sebagai atasan, papa adalah orang yang melihat kinerja seseorang dengan objektif. Beliau menerima pegawai bukan karena “titipan” atau karena hubungan keluarga. Bangga rasanya sebagai anak dan memang benar kata peribahasa, “orang mati meninggalkan nama”.

Seorang relasi papa berkata bahwa papa tidak mengumpulkan harta banyak, tapi dia “mengumpulkan” di orang-orang dan menjadi berkat bagi kehidupan orang lain. Ini juga sejalan dengan refleksi mama bahwa saya dan adik diberi berkat beasiswa dan kelancaran dalam belajar dan bekerja adalah karena papa yang sudah menanam di masa lalu.

Saya juga baru tahu bagaimana kehidupan beliau di masa kecil. Kampung yang beliau tinggali sangat sederhana, saya bahkan membayangkan kampung ini dulu tanpa listrik dan air bersih. Untuk bersekolah pun harus berjalan 2 KM. Beliau menghabiskan SD dan SMP di daerah Maybrat ini. Baru ketika SMA, beliau ke kota Sorong lalu melanjutkan ke kota Klaten. Kehidupan yang sangat keras yang beliau jalani.

Saya jadi teringat sambutan saya sendiri di kebaktian penghiburan almarhum papa bahwa, “saya seperti ini adalah karena papa saya”. Kalimat itu semakin jelas dan bermakna ketika saya tahu kehidupan papa.

Seandainya papa malas pergi ke sekolah karena harus jalan kaki sejauh 2 KM, seandainya dia tidak berani keluar dari daerahnya untuk sekolah ke tempat yang lebih baik dan seandainya dia menjadi pegawai negeri yang tidak bersih. Saya tidak bisa bayangkan saya seperti apa.

Well, today I am coming back to Bandung with stories and reflection about my dad. Cerita dan refleksi tersebut yang  membuat saya semakin kuat menjalani kehidupan sejak ditinggal papa.

Pelayanan Keluarga: “Investasi” terbesar Gereja

Tulisan yang dibuat dalam rangka Bulan Keluarga GKI 2017

Sepanjang bulan Oktober 2017, saya dijadwalkan untuk memberikan seminar/sesi tentang teknologi, generasi Z dan generasi Alfa baik kepada siswa dan orang tua. Seminar tersebut ada yang diselenggarakan oleh sekolah (SDK 6 BPK Penabur, Jakarta) dan gereja (GKI Kelapa Gading, Jakarta dan GKI Kebon Jati, Bandung). Isu teknologi dan generasi ini menjadi perhatian tersendiri bagi gereja dan sekolah dalam membina siswa/orang tua dan jemaatnya.

Isu ini terbukti dengan hasil riset Pusat Kajian Komunikasi Universitas Indonesia tentang profil pengguna internet Indonesia tahun 2014. Salah satu hasil riset tersebut memberi data bahwa sebanyak 93% pengguna internet tinggal bersama keluarga, bahkan 84% tinggal bersama keluarga batih (keluarga dengan anggota ayah, ibu dan anak yang belum menikah). Hasil riset ini menekankan betapa pentingnya pembinaan holistik di keluarga tentang penggunaan teknologi. Selain penggunaan teknologi, tentu ada hal lain juga yang harus diperhatikan mengenai pembinaan keluarga ini.

Continue reading

Daily Habits

Rutinitas tanpa tujuan adalah hal yang mengerikan; namun rutinitas tidak bisa dihindari. Sehingga rutinitas sebetulnya tidak selalu negatif. Apabila kita menjalankan rutinitas dengan tujuan yang jelas dan memiliki pola pikir yang benar tentang keseharian, maka kita dapat menjalani rutinitas dengan baik.

Apa yang harus dilakukan setiap hari, harus dilakukan setiap hari (makan, tidur, olahraga). Hal ini benar secara jasmani dan benar secara rohani. Kita tidak bisa berdoa hanya di hari minggu untuk satu minggu. Doa dan saat teduh harus dilakukan setiap hari. Seperti doa yang diajarkan Yesus:

Continue reading

Mari membangun Indonesia: berpikir lebih dari sekedar lulus

foto oleh Timothy Austin @tim_austin1

Tanggal 7 Agustus 2017 yang lalu, saya berkesempatan untuk pertama kalinya menjadi fasilitator SINDU (Spiritualitas dan Nilai Nilai Dasar UNPAR) untuk para mahasiswa baru angkatan 2017 di kegiatan SIAP (Inisiasi dan Adaptasi) UNPAR. Kami para fasilitator harus menyampaikan 3 (tiga) modul tentang SINDU dan satu modul tentang wawasan kebangsaan.

Dalam SINDU, dikenal tiga nilai dasar dan tujuh prinsip etis yang digambarkan dengan simbol rumah Leuit (rumah trandisional sunda). Tentang wawasan kebangsaan, kami para fasilitator mengingatkan para mahasiswa baru tentang Bangsa Indonesia yang sangat beragam dan memiliki falsafah Pancasila sebagai dasar negara dan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara. Wawasan kebangsaan menjadi sangat penting bagi mahasiswa baru yang harus paham bahwa bangsa ini adalah bangsa yang sangat beragam suku, bahasa, agama dan ras yang menjadi satu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Satu hal yang saya tekankan kepada mahasiswa baru adalah ketika mereka menjalani proses perkuliahan, mereka harus punya mindset untuk lebih dari sekedar lulus dari UNPAR. Mereka harus memiliki mindset untuk ikut membangun negeri ini dengan keahlian yang akan mereka miliki setelah menempuh pendidikan di UNPAR.

Continue reading

Papa: figur yang membuat saya ingin jadi dosen

I am today because of my dad, a genuine example of dedication as a lecturer

Hari ini dua tahun lalu adalah hari ketika saya resmi bekerja sebagai dosen di program studi Teknik Elektro Konsentrasi Mekatronika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Katolik Parahyangan. Memasuki masa dua tahun profesi ini, ada banyak kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan Fakultas kepada saya yang masih tergolong baru ini. Saya merasa over ekspektasi terhadap apa yang Tuhan kerjakan melalui profesi saya ini. Namun itulah Dia, yang selalu memberikan lebih daripada apa yang kita pikiran.

Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita… – Efesus 3:20

Inspirasi dari Papa

Saya bercita-cita menjadi dosen karena inspirasi dari Papa (Soleman Naa S.Sos., M.Si.). Papa yang Tuhan panggil pulang pada tanggal 27 Juli 2017 yang lalu. Papa dipanggil pulang tanpa rasa sakit, beliau meninggal ketika istirahat malam. Salah satu hal yang membekas dalam diri saya adalah contoh nyata beliau yang penuh dedikasi dalam profesinya sebagai dosen dan pegawai negeri sipil ketika bertugas di Papua dulu.

Ketika saya SD dulu, saya sering melihat Papa menyiapkan kuliah dengan transparansi, menggunakan spidol warna dengan tulisan tangannya. Waktu itu belum ada yang namanya proyektor, transparansi tersebut dipakai dengan menggunakan overhead projector. Di jaman itu, transpransi tersebut terlihat sangat keren. Saya yang masih SD sangat takjub melihat Papa yang hampir setiap hari bahkan hingga malam hari mempersiapkan kuliah.

Ketika itu juga, saya seringkali melihat Papa membaca buku. Bahkan sampai Papa ketiduran. Rasanya pemandangan ketika kecil itulah yang membuat saya jadi rajin membaca. Saya ingat ketika SD, beberapa buku Papa tentang house keeping, perhotelan, manajemen dan kepemimpinan sering saya baca.

Meja kerja terakhir Papa; tempat dimana beliau menyiapkan kuliah dan mengerjakan tugas administrasi sebagai anggota senat akademik

Papa: my role model

Saya sebagaimana saya sekarang adalah karena Papa. Terutama perannya yang menginspirasi saya menjadi seorang pengajar. Kami memang jarang ngobrol karena mungkin sejak saya SMA kelas 2 Papa pindah kerja menjadi pegawai negeri sipil di Papua. Namun saya sangat bersyukur, saya sempat curhat ke Papa tentang tawaran posisi di Fakultas. Saya sebetulnya jarang meminta pendapat Papa, namun entah kenapa ketika itu saya ingin meminta persetujuan Papa.

Papa adalah role model yang tidak banyak bicara, lembut, punya hati yang besar, pekerja keras dan tidak merepotkan orang lain bahkan sampai akhir hidupnya. Kehidupannya telah menjadi teladan bagi banyak orang. Papa: my role model.

Bukan kostumnya, tapi orangnya (a lesson from Spiderman: Homecoming)

Tony Stark: What if somebody had died? That’s on you. What if you had died? That’s on me. I don’t need that guilt on my conscience. I’m gonna need the suit back.
Peter Parker: For how long?
Tony Stark: For ever!
Peter Parker: I’m nothing without the suit!
Tony Stark: If you’re nothing without the suit, then you shouldn’t have it.

Spiderman: Homecoming  itu film keren! Actionnya seru, ceritanya keren dan film tersebut mampu memperlihatkan sisi emosional dari seorang Peter Parker. Sisi emosional tersebut dimulai dari dialog antara Peter Parker dan Tony Stark ketika Peter berusaha menolong penumpang yang berada di sebuah kapal pesiar. Dialog tersebut merupakan dialog yang paling saya ingat dan ada pelajaran menarik yang bisa kita ambil.

Identitas kita bukan ditentukan oleh apa yang kita punya dan bukan ditentukan apa yang kita pakai namun ditentukan oleh siapa kita sebenarnya

Continue reading

Rekomendasi untuk Pelayanan Pemuda GKI

Berikut adalah narasi dari materi yang saya presentasikan di Persidangan GKI Majelis Klasis Bandung tentang kepemimpinan kaum muda. Narasi ini kemudian dikutip oleh selisip dan dijadikan artikel di kolom opini. Artikel tersebut berfokus pada lima rekomendasi untuk topik kepemudaan di lingkup GKI khususnya klasis Bandung.

Elkana Tandi, GKI Terusan Pasir Koja; YouTube Channel: Elkana Tandi

Perkenalkan, namanya Elkana Tandi, dia seorang vlogger. Buat rekan-rekan yang berasal dari generasi sebelum milenial, yang mungkin belum familiar dengan istilah vlog (meski mungkin sudah banyak yang tahu), boleh saya perkenalkan vlog itu sebenarnya senada dengan blog, hanya saja bentuk narasinya berupa video. Buat Bapak Ibu dari generasi sebelumnya lagi, saya boleh katakan vlog dan blog itu mirip jurnal harian atau diary, hanya saja dipampangkan di akun media sosial sehingga bisa disimak dan direspon banyak orang.

Continue reading